PDIP Lebih Memilih Kehilangan Risma?

2014-02-24 17:51:17

PDIP Lebih Memilih Kehilangan Risma?    | Fiskal.co.id

Sumber Foto:

Alamat buruk bagi elektibitas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada Pemilu 2014 mulai tampak. Partai partai pesaing PDIP tengah berlomba membujuk Walikota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) untuk masuk ke dalam barisan mereka.

 

Sumber anonim yang digali Jakarta Globe, Senin (24/02), menyebutkan adanya upaya Partai Gerindra, membujuk Risma mendampingi Prabowo sebagai calon wakil presiden. Pertemuan sudah berlangsung hingga lima kali, dalam penjelasan sumber anonim tersebut.

 

Sementara itu, partai Golkar melalui fungsionarisnya Priyo Budi Santoso, memanggil Risma meminta kejelasan persoalan, namun para pengamat melihatnya sebagai cara untuk merekrut, yakni memberikan perhatian serta pegangan, kepada birokrat yang tengah kehilangan pijakan politiknya.

 

Hal itu juga yang dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, memanggil Risma dan menyatakan dukungan agar Walikota terbaik dunia itu bertahan, walau secara domain bisa diwakilkan oleh Kementerian dalam negeri, melalui Mendagri.

 

Andrinof Chaniago, pengamat politik dari UI mengatakan semua mata pemberitaan nasional tengah mengarah pada Risma, karena selain penghargaan dunia sebagai Walikota Terbaik bulan Februari oleh Yayasan Walikota Internasional, Risma juga sukses mengubah Surabaya lebih baik.

 

Tak ayal di tahun politik ini, wajar bila para tokoh politik pesaing PDIP mendekati sumber pemberitaan yang positif seperti Risma, untuk menaikkan elektibitas mereka masing-masing. Ketika Risma bermasalah dengan partainya, maka itu akan lebih baik dan menguntungkan kompetitor.

 

“Sulit untuk tidak mengatakan ini bukan karena tahun politik.” jelas Adrianof.

 

Lambannya sikap PDIP mendukung Risma, yang lantas dimanfaatkan partai politik lain, juga dikritik banyak kalangan. Sikap PDIP seolah lebih rela kehilangan Risma dibandingkan Wisnu Sakti Buana (Wakil Walikota Surabaya yang dilantik tanpa kehadiran Risma).

 

Mengapa PDIP Lebih Memilih Wisnu

 

Wawan Ichwanuddin, peneliti LIPI, sampai sekarang tidak habis pikir kenapa Wisnu yang lebih dipertahankan dibandingkan persepsi publik yang memihak Risma. Dia juga bertanya-tanya mengapa PDI-P bersikeras menunjuk Wisnu sebagai wakil Risma padahal mereka mengetahui bahwa Wisnu merupakan rival politik Risma.

 

"Wisnu adalah salah satu tokoh yang bertentangan dengan Risma ketika ia menaikkan pajak reklame. Meskipun masalah telah dipecahkan, persepsi publik tentang kasus tetap negatif," jelas Wawan.

 

Wawan bahkan melihat Risma dianaktirikan oleh PDIP, dibandingkan dengan perlakukan PDIP kepada Jokowi.

 

Kini, walau politisi PDIP Arif Wibowo merasa marah pendekatan parpol lain terhadap Risma, dengan mewanti parpol lain jangan ikut campur urusan internal PDIP, para pengamat politik lebih melihat ini sebagai blunder dari PDIP sendiri.

 

Analis politik Gun Gun Heryanto mengingatkan, bahwa partai lain tentu saja akan memanfaatkan kegalauan Risma yang merupakan aset emas politik saat ini, dikarenakan sikap PDIP yang terkesan acuh tak acuh.

 

 “Ada potensi (bahwa Risma) akan pindah ke partai lain. Walau saya belum teliti lebih mendalam,” jelas Gun Gun.

 

Risma Tolak Langgar Aturan

 

Risma sendiri sikapnya sudah jelas berkaitan dengan masalah ini, yakni mengkritik partainya sendiri karena melakukan pengangkatan wakil walikota Surabaya dengan tidak berdasarkan aturan yang berlaku.

 

Risma menegaskan dia tidak ada masalah apa-apa dengan Wisnu, hanya saja tidak sepakat dengan pengangkatannya yang tidak prosedural.

 

Risma menjelaskan dirinya ingin merubah Surabaya menjadi kota yang taat aturan dan hukum. Maka dari  itu, menurut Risma, dia akan keberatan berkerja sama dengan sosok yang pengangkatannya menyalahi aturan.***Fey