Pajak tak Terpenuhi, Pemerintah Pangkas Anggaran Program Multitafsir

18th December 2015 , 04:12 AM

Pajak tak Terpenuhi, Pemerintah Pangkas Anggaran Program Multitafsir | Fiskal.co.id

Sumber Foto: beritagar

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan akan mengurangi biaya-biaya yang tidak begitu penting dalam rangka efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP). Dia menjelaskan anggaran yang akan dipangkas meliputi proyek yang multitafsir.

 

Menurutnya langkah tersebut sebagai bentuk dari kegiatan mengimbangi penerimaan ‎negara dari pajak yang diprediksi tak akan tercapai. Seperti diketahui sebelumnya Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meminta kepada Kementerian dan Lembaga (K/L) untuk menghilangkan program pemerintah yang menggunakan kalimat bersayap.

 

Sebagai contoh, jika pemerintah mengalokasikan belanja untuk membeli benih sebaiknya ditulis untuk pembelian benih. Bukan menggunakan terminologi lain seperti pemberdayaan petani. "Sebetulnya harus dikurangi dari yang kurang penting seperti biaya perjalanan. Terminologi yang rancu dalam penganggaran, contoh kata pemberdayaan petani," kata dia di Tangerang, Kamis malam (17/12/2015).

 

Hal senada juga diungkapkan oleh menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Bambang mengatakan, ‎jika masih dalam lingkup pemrograman maka kata-kata yang sifatnya umum dan tidak menjurus masih bisa digunakan. Namun, jika telah masuk satuan tiga dan menjurus kepada perumusan anggaran maka bahasanya harus jelas dan tidak bersayap.

 

"‎Kalau sudah level kegiatan tidak boleh lagi kata bersayap. Karena kegiatan itu harus clear.  Apakah beli barang, bangun sesuatu. Jadi bahasanya harus langsung, satuannya berapa, besaran-nya berapa, totalnya berapa. Karena kadang kalau tidak jelas nilainya bisa enggak terkontrol. Kalau jelas barangnya, apa satuannya kan bisa dikontrol‎," ujarnya.

 

Penghilangan kata-kata bersayap ini dimaksudkan agar setiap kegiatan dan anggaran yang dikeluarkan jelas peruntukannya. Bahkan, jika dimungkinkan program tersebut bisa diminimalisir‎ pengeluaran biayanya.

 

‎"Maksudnya biar jelas kalau mau belanja, belanja apa? Jangan belanja misalnya, kamu inginnya makan tapi bilangnya pemberdayaan saya supaya enggak mati kelaparan. Jelas saja kamu beli makan siang berapa rupiah. Beli makan malam berapa rupiah," tandasnya. *** kny (sindo, liputan6)