Tak Ada Data Valid, Perolehan Pajak Rp.1000 triliun Mulai Diragukan

2nd January 2016 , 09:01 AM

Tak Ada Data Valid, Perolehan Pajak Rp.1000 triliun Mulai Diragukan | Fiskal.co.id

Sumber Foto: pajak.go.id

Sejumlah kalangan, meragukan pernyataan Menteri Keuangan Bambang P.S Brodjonegoro terkait perolehan pajak yang telah tembus Rp.1000 triliun rupiah. Salah satunya Direktur Ekesekutif LBH Pajak dan Cukai Nelson Butar-butar, Nelson menganggap pernyataan menteri Bambang hanya hoax belaka karena dak disertai data yang valid. 

 

"Penerimaan pajak sampai 25 Desember 2015 diakui Menkeu mencapai Rp 1.000 triliun. Apakah semua angka-angka itu benar atau tidak?"kata Nelson dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (2/1).

 

Keraguan Nelson, disebabkan sejumlah kejanggalan terutama kurang terbuka nya data wajib pajak yang telah menyelesaikan pembayarannya. Meskipun Menkeu Bambang pernah mengungkapakn bahwa pendapatan pajak meningkat signifikan karena hasil kerasnya dalam menjadi tax collectir terhadap 50 wajib pajak bedar, Nelson masih meragukan kebenaran data itu tersebut. 

 

Sebab, sampai saat ini sistem Informasi Teknologi (IT) Ditjen Pajak dalam kondisi error. Sulit untuk meyakini data riil penerimaan yang diklaim tersebut. Jangankan data IT, saluran telephone tetap (STT) DJP saja sama sekali tidak bisa diakses publik. 

 

"Bisakah publik mendapatkan data otentik yang terakses secara online untuk menguji kebenaran atas klaim Bambang itu?. Kami kerap kesulitan, bahkan nyaris gagal menghubungi ke DJP. Kami ada record sambungannya kok. Akibatnya kami harus selalu datang langsung ke kantor Dirjen Pajak," kata Nelson

 

"Biar semua bisa sama-sama mengujinya, sehingga tidak ada celah keragu-raguan seharusnya pak Bambang perintahkan dong agar segera data DJP yang diklaimnya itu dikonversi langsung ke model IT saja. Jadi publik tidak perlu meraba-raba tentang klaim angka-angka itu. Atau jangan-jangan Menkeu hanya menerima laporan Asal Bapak Senang (ABS) padahal ke depan hari bisa bermasalah secara hukum lho" tegasnya. *** kny (inlah, berita satu)