Jokowi Gagal Penuhi Target Pembangunan Pada 2015

2nd January 2016 , 12:01 PM

Jokowi Gagal Penuhi Target Pembangunan Pada 2015 | Fiskal.co.id

Sumber Foto: bbci.co.uk

Pemerintahan Presiden Joko "Jokowi" Widodo dinilai gagal dalam memenuhi target target pembangunan sebagaimana asumsi makro ekonomi yang mengacu pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 meleset di hampir semua indikator.

Dari lima indikator empat gagal dipenuhi oleh pemerintah, di antaranya pertumbuhan ekonomi dalam target 5,3 persen hanya tercapai 4,8 persen, angka pengangguran naik naik 5,94 persen menjadi 7,56 juta orang dibanding tahun lalu yang hanya 7,24 juta, angka angka kemiskinan pun gagal dikurangi sebagaimana sejak Maret 2015, angkanya mencapai 11,2 persen, dan akhirnya rasio gini (ketimpangan) melebar 0,41 persen.

Adapun, satu indikator yakni pengendalilan inflasi bisa dinilai sebagai keberhasilan. Dari target  5 persen, inflasi sepanjang 2015  mencapai 2,9 persen. Walau sejatinya keberhasilan ini didukung sepenuhnya oleh pelemahan komoditas dunia karena mengikuti tren pada menurunnya harga BBM, namun beberapa tren inflasi sebenarnya berupa inflasi pangan masih berada dalam tingkatan inflasi tinggi tang belum tertangani baik oleh pemerintah.

Tahun 2015 bukan tahunnya Presiden Jokowi yang sempat direpotkan oleh permasalahan kekosongan fiskal, walau terbantu oleh penurunan harga minyak dunia dan kebijakan bagus menyerahkan harga BBM pada pasar. Namun dalam semester pertama tahun 2015, tahun pertama pemerintahannya terdapat tantangan besar daya serap anggaran yang rendah, serta tekanan pada mata uang rupiah berkinerja terburuk se Asia sebagai akibat ketidakpastian kenaikan suku bunga the Fed di AS, membuat para investor lebih memilih menunggu dibandingkan masuk ke dalam pasar Indonesia secara langsung.

Penyikapan negatif investor turun merevisi target pertumbuhan ekonomi, walau pihak rating menyebut Indonesia sebagai prospek bagus, bagi investor tahun 2015, bukan tahunnya membeli janji-janji Jokowi.

Adapun pemerintah kembali melayangkan sikap optimis berkaitan dengan ekonomi di tahun 2016.

"Tahun depan mungkin prospeknya lebih baik, karena lebih ada kepastian soal tingkat suku bunga Amerika Serikat. Lalu China juga kebijakan devaluasinya mungkin sudah terbatas lagi. Jadi kepastian itu lebih ada di 2016, dibanding 2015 menjelang akhir," tukas Menkeu Bambang Brodjonegoro.***Red (Kompas, CNN)