Cukai Minuman Beralkohol Turun Pasca Dilarang Beredar di Minimarket

10th January 2016 , 11:01 AM

Cukai Minuman Beralkohol Turun Pasca Dilarang Beredar di Minimarket | Fiskal.co.id

Sumber Foto: dream.id

Langkah Menteri Perdagangan yang melarang penjualan minuman beralkohol di minimarket berimplikasi pada turunnya penerimaan cukai sebesar Rp 2 triliun.

 

Dirjen Bea Cukai Kementerian Keuangan, Heru Pambudi mengatakan meski pihaknya mendukung pembatasan bir di minimarket dan retail, tapi data menunjukan adanya penurunan cukai minuman beralkohol.

 

Dalam laporan pencapaian DJBC ini Heru menyampaikan bahwa tahun 2015, penerimaan cukai dari minuman beralkohol hanya Rp 4,6 triliun atau hanya 70.6 persen dari target yang sebesar Rp 6,4 triliun.

 

"Penerimaan ini turun Rp 2 triliun lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun 2014 yang sebesar Rp 5,3 triliun," ujarnya Jumat (8/1/2016).

 

Di 2015, penerimaan cukai minuman beralkohol bahkan tak lebih dari 5 persen dari total penerimaan cukai. Untungnya penerimaan bea dan cukai masih diselamatkan oleh cukai rokok dan peningkatan kegiatan pengawasan di pesisir pantai timur Sumatera. 

 

" Wilayah hulu arus masuk barang impor melalui laut," papar Heru.

 

Penindakan rokok ilegal di 2015 berkorelasi positif dengan peningkatan penerimaan cukai. Buktinya, kata Heru, pada tahun 2015, cukai menyumbang Rp 100,3 triliun dari target APBNP atau sebesar 139,5 triliun.

 

"Penerimaan cukai 2015, sebesar 96 persennya disumbang oleh cukai rokok. Jadi walau penerimaan cukai keluar dan cukai masuk turun, tertutup oleh cukai rokok," ujar Heru. 

 

Secara keseluruham perolehan bea dan cukai tahun 2015 sebesar Rp 180 triliun atau meningkat 10 persen dari tahun lalu yang hanya berada di kisaran Rp 162,4 triliun. Dari jumlah penerimaan tersebut sebesar Rp 31,9 triliun disumbang oleh bea masuk, Rp 144,6 triliun disumbang oleh pendapatan cukai, dan Rp 3,9 dari bea keluar.

 

*** kny (kompas)