Media Asing: Respon Terorisme Jokowi Lebih Baik Dari Presiden Perancis

17th January 2016 , 10:01 AM

Media Asing: Respon Terorisme Jokowi Lebih Baik Dari Presiden Perancis | Fiskal.co.id

Sumber Foto: Fiskal.co.id

Jokowi seolah mengungkapkan bahwa berperang dengan ketidakadilan sosial lebih penting dibandingkan berperang dengan terorisme.

Setelah kemunculan tagar otimis #kami_tidak_takut, dalam aksi terorisme kamis 14 Januari 2016 lalu, dunia memandang Indonesia dalam mood berbeda. Alih-alih mengobral rasa iba, malah kebalikannya, aksi warga Indonesia dan presidennya membawa mood positif sebagaimana ditunjukkan dengan nada keheran-heranan media asing membanjiri setiap kanal online yang ada.

Bloomberg misalnya menulis judul besar "Indonesia Punya Nyali Lawan Teroris" sebagaiman pujian dilanjutkan kepada aparat hukum dan politik Indonesia, sanggup menampung gerakan radikal Islam, lalu membuat gerakan radikal berpotensi pada terorisme menjadi serpihan kecil yang tersebar-sebar dan tidak memiliki pengaruh besar pada populasi muslim umumnya. Kemampuan pemerintah Indonesia berkomunikasi dengan pemuka agama, dan mendudukkan penting sisi agama sebagaimana subjek pembangunan, membuat pemerintah efektif menangkal segala bentuk radikalisme.

Dan lebih khusus lagi, The Atlantic menulis kredibilitas Indonesia tercermin dari sikap kepala negaranya, dalam hal ini Presiden Joko Widodo yang digambarkan sebagai sikap lebih dihargai dalam artikel "One President’s Remarkable Response to Terrorism". Jokowi tulis The Atlantic, alih-alih mengobral emosi yang meledak-ledak, justru memperlihatkan serangan teroris bagai manusia menepuk gigitan nyamuk. Kecil dan bukan ancaman besar, mudah dikendalikan. Sekedar gangguan pada keamanan publik, gangguan pada kedamaian, lalu memuji sikap masyarakat dan netizen Indonesia yang menyebarluaskan tagar #kami_tidak_takut, yang lebih laku dibandingkan tagar #pray_for_Indonesia.

Jokowi tulis The Atlantic tidak serta merta menyatakan bahwa Indonesia sedang berperang dengan Islam Radikal, Negara Islam, atau terorisme. Jokowi tidak menunjukkan bahwa masa depan Indonesia sedang dipertaruhkan, sehingga harus membunyikan alarm.

Lalu penulis membandingkan respon Jokowi dengan respon presiden Perancis Francois Hollande terhadap serangan ISIS di Paris tahun lalu.
Tiga hari setelah mengamuk di media massa, presiden Prancis berdiri di hadapan Parlemen dan menyatakan bahwa "Perancis ingin perang."

Walau memberikan narasi politik yang sama dengan Jokowi, Hollande dan pemerintah Perancis menyerukan aksi balas dendam
dan bersumpah melakukan serangan udara terhadap ISIS di Suriah dan Irak, lalu menyatakan negara Perancis dalam kondisi darurat, serta campur tangan aparat keamanan secara nasional diperluas. Dibanding Jokowi, Hollande lebih ingin terlihat pencitraan seolah tengah dalam perjuangan yang maha dashyat dan serba ngeri, alias bersikap lebih lebay.

Jokowi seolah mengungkapkan bahwa berperang dengan ketidakadilan sosial lebih penting dibandingkan berperang dengan terorisme, sebagaimana pernyataannya :

"Dalam menghadapi radikalisme and ekstrimisme kita mesti lebih dahulu menghentikan ketidakadilan ekonomi,” jelas Jokowi pada Foreign Affairs beberapa waktu setelah terpilih sebagai Presiden.

Dan tentu saja obat terorisme adalah keadilan sosial, pemerataan pembangunan, kesempatan berekonomi serta hidup lebih layak.  Pendapat itu bukan dari sembarang ucap. Jokowi setidaknya pernah mengalami di Solo sebagai Walikota, bagaimana cra "berperang" dengan pengikut Abu Bakar Basyir, yang bukan dengan kepalan tinju dan peluru. Melainkan dengan pendapatan perkapita setiap masyarakatnya.

Sebagai pedagang, Jokowi bagai Don Corleone ingin menawarkan suatu tawaran yang tidak bisa ditolak para calon teroris serta para radikalis. Yakni tawaran berjihad demi keluarga sendiri serta kehidupan ekonomi yang membaik.

Dia juga meyakini, bahwa sifat masyarakat mayoritas muslim pada dasarnya baik dan moderat, hanya sebagian kecil saja dari masyarakat yang memilih tetap paranoid serta radikal.

Bahkan bagi Jokowi, kejahatan narkoba lebih berbahaya dibandingkan dengan terorisme. Sehingga ketika ditanyakan apa responnya tentang ISIS, Jokowi menimpali, "Jumlahnya akan berkurang." Setidaknya sejalan dengan upaya demokratisasi di segala bidang.

Media asing kembali memperkenalkan Indonesia yang mendidik dunia agar berpandangan lebih positif , melawan musuh yang paling mereka takuti.***Red