Ingin Dominasi Masa Depan, Singapura Jalankan Prinsip Dasar Kesinambungan Fiskal

20th July 2015 , 04:07 AM

Ingin Dominasi Masa Depan, Singapura Jalankan Prinsip Dasar Kesinambungan Fiskal | Fiskal.co.id

Sumber Foto: mot.gov.sg

Singapura bersiap mengamankan kemakmuran ekonomi dalam 50 tahun ke depan dan mulai membangun pondasinya dari sekarang. Mereka kini memerlukan investasi dalam teknologi, pelatihan keterampilan, dalam perkembangan infrastruktur.

Namun kesemuanya punya harga. Ketika Singapura fokus pada restrukturisasi dan produktivitas, maka kehati-hatian fiskal akan mereka lakukan dalam agenda ekonomi Singapura. Dan perdebatan nasional tentang masalah ini sekarang lebih aktif dari sebelumnya.

Untuk anggaran pada bulan Februari, Departemen Keuangan Singapura misalnya memperkirakan defisit keseluruhan $ 6.67 miliar untuk tahun keuangan 2015/16. Jika terealisasi, ini akan menjadi defisit terbesar dalam sejarah.

Dalam sambutan fiskal negaranya, Wakil Perdana Menteri Tharman Shanmugaratnam mengatakan belanja publik dari 19 persen akan menjadi 19,5 persen dari produk domestik bruto rata-rata dalam lima tahun ke depan.

Dalam rangka Pengembalian Investasi Bersih dan memperluas ceruk pendapatan potensial, pemerintah singapura membuat perubahan fiskal walau memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat dan kalangan dalam Pemerintah. Kesinambungan fiskal tetap menjadi prinsip dasar yang mendasari kebijakan fiskal Singapura baik saat ini dan di masa depan.

Bagian dari tema untuk Anggaran 2015 adalah "Membangun Masa Depan Kita". Tapi mengenai keseimbangan yang tepat antara pengeluaran dan penyimpanan untuk masa depan masih belum jelas.

Terminal kelima di Bandara Changi, yang baru dibangun misalnya, akan membuat Singapura menjadi pusat penerbangan utama, memberikan negara tersebut keunggulan strategis yang luar biasa atas kota-kota regional dalam perlombaan untuk menjadi hub Asia.

Sementara itu, investasi dalam modal SDM melalui skema seperti SkillsFuture adalah menjadi landasan ekonomi yang akan terus dibatasi oleh demografis para pensiunan.

Namun, rasa takut akan pengeluaran berlebih - dan menghabiskan sumber daya untuk masa depan - juga berlaku, dan lebih dari beberapa Anggota Parlemen ikut mengangkat krisis utang Yunani menjadi bagian peringatan.

"Kita dapat menarik kepercayaan dan kenyataan bahwa kita memiliki sumber daya fiskal yang cukup. Memang, kita harus melihat cadangan sebagai transfer tabungan dari generasi baby boom untuk negara dan untuk generasi masa depan Singapura," jelas Donald Low dalam bukunya, "Hard Choice"***Red  (Strait Times)