Pendapatan Pajak Rendah, Australia Revisi Pertumbuhan Ekonomi

16th December 2015 , 06:12 AM

Pendapatan Pajak Rendah, Australia Revisi Pertumbuhan Ekonomi | Fiskal.co.id

Sumber Foto: the australian

Pemerintah Australia, merevisi pertumbuhan ekonominya karena rendah nya pendapatan pajak yang diperoleh negara kanguru tersebut. Menteri Keuangan (Menkeu) Australia Scott Morrison mengumumkan perevisian pertumbuhan ekonomi ini pun pada Selasa (15/12).

 

Berdasarkan data ekonomi tengah tahun fiskal, ekonomi Australia memperlihatkan defisit akhir tahun 2015 ini akan membengkak dari perkiraan anggaran Mei 2015 yang sebesar Aus$ 35,1 miliar, pada saat jabatan menkeu masih dipegang oleh Joe Hockey.

 

Pembengkakan defisit terutama disebabkan jatuhnya harga-harga komoditas, terutama bijih besi yang menyumbang paling besar terhadap pendapatan ekspor nasional. Harga bijih besi kini berada di kisaran harga US$ 38 per ton – lebih rendah US$ 10 dari pada perkiraan rata-rata pada Mei 2015.

 

Perlambatan pertumbuhan upah juga berkontribusi terhadap turunnya penerimaan pajak. Sebelumnya, pemerintah Australia menargetkan anggaran berimbang pada 2019-2020, namun sekarang dimundurkan setahun.

 

Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di level yang lebih realistis, yakni 2,5% pada 2015-2016 atau seperempat poin persentase lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, dan diperkirakan naik menjadi 2,75% pada 2016-2017. Angka terbaru turun signifikan dari perkiraan Mei yang mencapai 3,25%.

 

Selama hampir 20 tahun, Laju ekonomi Negeri Kangguru selama ini digerakkan oleh sumber daya alam hingga menikmati lonjakan harga komoditas di pasar global. Namun kini harga komoditas ambruk seiring melemahnya ekonomi Cina, juga berdampak pada perekonomian Australia.

 

Morrisson mengatakan, pemerintah akan terus bersabar dan bertanggung jawab selama proses menuju keseimbangan anggaran.

 

“Saya ingin menegaskan kata-kata itu: sabar dan bertanggungjawab. Kami harus mengambil jalur aman dan waspada, serta tidak mengorbankan lapangan kerja serta pertumbuhan,” ujar dia. *** kny (beritasatu)