Pencabutan Subsidi BBM dan Revolusi Mental Pejabat

29th August 2014 , 12:08 AM

Pencabutan Subsidi BBM dan Revolusi Mental Pejabat | Fiskal.co.id

Sumber Foto: google

Masalah subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang kini tengah mencuat, seyogyanya dapat dijadikan ajang "REVOLUSI MENTAL". Jargon yang diusung oleh presiden terpilih Joko Widodo saat kampanye ini, bisa diterapkan dalam masa transisi kepemimpinan dan menghadapi problemtika subsidi BBM saat ini.

 

Merevolusi mental melalui pemahaman subsidi BBM, ditujukan untuk me"REVOLUSI MENTAL" beberapa golongan lapisan masyarakat. Yang pertama yakni  golongan masyarakat kelas menengah, yang merupakan golongan terbesar penikmat subsidi BBM. Hampir 70 persen atau lebih, subsidi BBM diminum mobil dan motor pribad kelas menengah inii. Dan hampir  setiap ada ide kenaikan harga BBM, golongan inipun ribut karena mereka punya akses ke berbagai media sosial. kecanduan subsidi BBM telah mengakibatkan mereka semakin manja. Sayangnya pemerintah pun rasanya enggan ribut dengan kelas menengah yang cerewet dan banyak maunya ini.

 

Kedua ialah golongan penguasa dan pemerintah. Sebagai penyelenggara negara, kebijakan pemerintah semestinya tidak memandang rakyatnya hanya sebagai rentetan angka - angaka,    tak tidak dianggap sebagai manusia bernyawa (Impersonalisasi). Jika rakyat direduksi menjadi angka, ini membuat pengambil keputusan tidak merasa bersalah kepada rakyat karena telah melanggar sebuah konstitusi.

 

Sebenarnya rakyat akan memaklumi dan memahami jika pemerintah sedari awal mengatakan hal yang sebenarnya kepada rakyat jika harga BBM tidak dinaikkan maka negara tidak akan punya uang. Pembangunan jalan dan infrastruktur lainnya akan macet abadi. Apalagi jika kenaikan BBM dibarengi dengan Perpres pemotongan tunjangan - tunjangan bagi pejabat negara. Namun kenyataannya selama ini, tak lama setelah harga BBM dinaikkan biasanya akan diikuti peraturan mengenai kenaikan gaji dan tunjangan bagi PNS, Menteri, dan anggota DPR.

 

Namun, kini ada suara yang tengah membesarkan hati kita, karena presiden terpilih Joko Widodo dengan tegas mengatakan berani menaikkan harga BBM sebagai konsekwensi dihapusnya subsidi energi secara bertahap. ”Kalau saya loh ya, yang tegas-tegas saja. Kalau mau naik, ya naik saja,” kata Jokowi beberapa waktu lalu.

 

Semangat Jokowi menghapus subsidi BBM dalam pernyataan-pernyataan sebelumnya, bisa menjadi salah satu realisasi " REVOLUSI MENTAL " yang diusungnya. Meskipun pertemuan antara Presiden Demisioner SBY dan Jokowi juga belum membuahkan hasil. Namun Jika Jokowi benar-benar konsisten terhadap ucapannya bahwa, tidak ada  yang bisa menyetirnya kecuali konstitusi, dia dapat mengambil keputusan untuk membiarkan subsidi BBM habis Oktober nanti, jika subsidi BBM habis maka Jokowi akan bebas mengalihkan dana subsidi ke arah konstitusi tanpa gangguan DPR. Karena prinsip rakyat Indonesia sekarang, berapapaun harganya yang penting ada dari pada murah tapi langka. *** kinaya.