Indonesia Masih Bergantung Dana Asing

2nd September 2014 , 11:09 AM

Indonesia Masih Bergantung Dana Asing | Fiskal.co.id

Sumber Foto: Mudrajad

Indonesia berhasil keluar dari surplus perdagangan pada bulan Juli, tapi sebenarnya negara ini masih rentan saat terkena perubahan mendadak dalam arus modal.

Neraca perdagangan negara masih defisit untuk tahun ini, dan pemerintah juga menjalankan defisit anggaran, merupakan cerminan dari subsidi negara yang mahal pada harga bahan bakar.

Kedua defisit ini berarti negara bergantung pada dana asing untuk bisa mengarahkan pada perbedaan, terutama dalam bentuk uang yang mengalir ke pasar saham dan obligasi negara.

Setahun yang lalu, pembalikan arus ini disebabkan oleh kekhawatiran bahwa pergerakan ekonomi AS akan bergerak lebih tinggi, dan mempengaruhi aset di Indonesia. Pemerintah telah mulai mencoba untuk menyesuaikan perekonomian.

Negara dengan ekonomi terbesar di kawasan ini mencatat surplus $ 124.000.000 pada perdagangan sekitar $ 28 miliar di bulan Juli. Tapi surplus pada Juli menutupi kelemahan dalam perekonomian.

Ekspor turun 6% pada tahun ini, mencerminkan ekspor komoditas yang lebih rendah karena pengaruh ekonomi di China. Impor turun 19,3%, menjaga neraca perdagangan positif.
 
Berdasarkan data, ANZ menyatakan ada risiko penurunan perkiraan ekonomi Indonesia yang akan tumbuh 5,4% pada tahun 2014.

Neraca perdagangan Indonesia masih defisit sekitar $ 1 miliar untuk 2014, terpukul oleh harga yang rendah untuk komoditas dan yang aturan baru yang mencegah para penambang dari ekspor miliaran dolar dalam bentuk mineral mentah.

Investor tetap waspada tentang adanya ketidakseimbangan. Mata uang rupiah kembali normal di awal 2014, setelah pemerintah mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan defisit perdagangan yang besar, termasuk menaikkan suku bunga tahun lalu. Upaya tersebut telah terasa efeknya, dengan perbaikan pertumbuhan ekonomi ke level terendah dalam lima tahun.

Namun dolar AS masih 7% lebih tinggi terhadap rupiah di Indonesia selama 12 bulan terakhir.

Investor juga ingin melihat pemerintah mengekang defisit anggaran yang besar, ketidakseimbangan lain yang membuat negara itu tergantung pada pembiayaan luar negeri. ***int (Sumber: Wall Street Journal)