Setelah Foke, Prabowo, Petral, Akankah Gerakan Mahasiswa Kali Ini Yang Dipermalukan Joko Widodo?

23rd March 2015 , 11:03 PM

Setelah Foke, Prabowo, Petral, Akankah Gerakan Mahasiswa Kali Ini Yang Dipermalukan Joko Widodo? | Fiskal.co.id

Sumber Foto: DetakRiau, (Foto Inset Finansialku.com)

Apa yang menjadikan demontrasi Mahasiswa pada era 1966 dan berlanjut pada era 1998? pada era yang telah disebutkan itu mahasiswa cenderung bersatu dan berhasil meraih objektifnya, yakni kekuasaan? Setidaknya para aktor aktor kampus di era itu benar benar secara harfiah merebut kekuasaan dari yang mereka jatuhkan.

Orang tidak akan mengenal Abdul Gafur, atau Akbar Tanjung di pemerintahan era Orde Baru 1968-1998, jika mahasiswa gagal menjatuhkan Presiden Soekarno. Begitupula sekian banyak dari Anda pun tidak akan mengenal Fahri Hamzah (KAMMI), Rama Pratama (BEM), Akbar Zulfakar (KAMMI), Budiman Soedjatmiko (PRD), Adian Napitupulu (Forkot), dan Anas Urbaningrum (HMI), jika mereka tidak sukses menjatuhkan Presiden Soeharto.

Para aktivis mahasiswa itu secara literal menjatuhkan kekuasan dan menggantinya dengan diri mereka sendiri. Pada saat mereka mampu menunggangi (piggyback) kesempatan saat sang presiden mengabaikan prinsip keberlangsungan fiskal negara, dan hidup dalam bunker idealitasnya sendiri, dan itu terjadi pada Soekarno dan Soeharto.

Zaman menjadikan kesempitan fiskal sebagai kesempatannya para politisi termasuk yang masih hijau di Kampus Kampus. Isu persaingan politik antara faksi militer di Indonesia pada 1965, ditunggangi oleh mereka yang menyeretnya sebagai isu ekonomi, saat pemerintahan abai dengan kondisi fiskal negara di mana mengutip buku Empat Prinsip Dasar Fiskal (2015), Perdana Menteri Soebandrio pernah menghardik para ekonom Kampus, bahwa mereka tidak dibutuhkan karena era orde baru Soekarno adalah era Politik Menjadi Panglima.

Begitupun pada era Soeharto, pembangunan yang menitikberatkan pada model trickle down effect dengan cara memupuk fiskal demi menumbuhkan kelas konglomerat yang diyakini akan mengalirkan kekayaannya ke bawah, gagal total. Dalam pertemuan Jimbaran di Bali beberapa tahun sebelum dirinya dilengserkan paksa, Soeharto gagal meyakinkan para konglomerat untuk membantu pemerintah menghadapi krisis ekonomi yang bau baunya terasa.

Kebijakan Soeharto yang menitikberatkan pembangunan moneter dengan begitu murahnya uang jaminan mendirikan Bank, tidak diimbangi dengan kerangka kebijakan fiskal yang baik dalam bentuk pengetatan struktur perpajakan, dan regulasi yang ketat pada setiap lembaga keuangan. Tindakan yang syukurlah telah diupayakan pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Jangan Mimpi Rusak Demokrasi Saat Pertumbuhan Rata Rata 6 Persen Pertahun

Jika dengan segala penguatan yang telah tejadi, maka mungkinkah akan ada gerakan mahasiswa yang bisa mendongkel seorang Presiden dari kekuasaanya? Di era di mana telah muncul Otoritas Jasa Keuangan? Di era di mana telah lahir Badan Kebijakan Fiskal, dan reformasi birokrasi a'la Sri Mulyani Indrawati telah tumbuh dipemerintahan?

Jawabannya adalah kembali ke pasar. Jika Mahasiswa ingin berhasil menumbangkan Jokowi, maka sebaiknya mereka bersekutu dengan pasar, wabil khusus yakni dengan jutaan UKM dan para profesional, untuk mogok masal minimal sehari. Walau mengajak kelas menengah untuk ngerem di tengah kenaikan pendapatan sama dengan  menyuruh mereka membakar 20 persen uangnya, bisa bisa Anda yang dibakar oleh mereka.

Tumbuhnya kapitalisme di Indonesia kini berada dalam kondisi gigi tiga dengan munculnya 80 juta kelas menengah baru, mereka yang terdidik, berkerah putih, dan stabil secara keuangan, mandiri dalam pandangan politik, dan merekalah yang bagai juri Idol, bilang yes dan no padakekuasaan, menjadi penguasa riil yang menopang kursi presiden. Dan mereka adalah "paman dan bibi" dari mahasiswa yang saat ini tengah demontrasi menjatuhkan presiden Karena usia mereka rata-rata dipertengahan 40.

Pertumbuhan kelas menengah Indonesia menggembirakan, sehingga kelas paling miskin semakin menyempit.  Simak diagram berikut ini.




Nah, bila tidak mampu mengamankan dukungan dari kelas menengah, maka lupakan mimpi mendongkel presiden Joko Widodo yang secara representatif berdasarkan jumlah sumbangan kampanye sampai ratusan miliar, diasumsikan didukung oleh kelas menengah.  Selain dukungan kelas menengah, posisi Jokowi secara ekonomi masih relatif kuat.

Karena mahasiswa yang turun ke jalan barangkali merupakan suatu faktor makro, bahwa walau dihantam depresiasi, makro ekonomi Indonesia sangat kuat. Begitu kuat sehingga tidak mampu menggoyang pertumbuhan ekonomi yang diproyeksi 5.5 persen pada tahun ini ke wilayah default. Sampai sampai ada kredo Indonesia terlalu besar untuk jatuh oleh krisis 'ecek ecek' seperti penguatan ekonomi AS, dan pelemahan ekonomi China yang menjadi pasar utama Indonesia.

Mahasiswa barangkali juga melupakan bahwa sektor finansial kita tidak serapuh masa lalu, cadangan devisa masih bisa mengintervensi rupiah dalam satu dan dua tindakan, dan tidak ada lagi beban anggaran akibat keperluan impor bahan bakar bersubsidi yang mahal, karena harga minyak dunia tengah turun.

Betul bagai dalam tinju, pemerintahan tengah sempoyongan kena satu atau dua jab moneter ke arah wajah, tapi bonyok bonyok tidak menjadikannya jatuh, dan pemerintah bisa membalas jab jab para spekulan dengan upper cut kebijakan fiskal, seperti kerenggangan pajak bagi para investor, pembebasan visa untuk turis, mengalihkan pajak ke bea, penghematan anggaran.

Namun bukan tanpa masalah. Titik utamanya bukan lagi gagasan hebat di atas, tapi bagaimana eksekusinya? Pemerintah telah menggelontorkan ratusan triliun dalam pembangunan infrastruktur pada APBN 2015, bagaimana pengawasannya? Di sinilah peran mahasiswa sebenarnya bisa lebih efektif ketimbang mencoba menjatuhkan presiden yang mengaku dirinya hanya "petugas" ekonomi pasar.

Sehingga tidak perlu ditebak hasilnya, namun perlu diingatkan lagi kepada para mahasiswa, jika tidak yakin dengan isu utama untuk mendongkel presiden, maka jangan korbankan nama "mahasiswa" karena itu akan digunakan oleh adik adik Anda di masa depan, dan mereka tentunya tidak ingin menyandang nama "mahasiswa yang dipermalukan" seorang  Joko Widodo, setelah yang pria kurus ini mempermalukan banyak gabungan kekuatan yang secara matematis mustahil kalah.

Foke, Prabowo, Petral, BG, Mafia Beras, Mafia Tuna, dikalahkan tukang Mebel dari Solo ini.***Red