Ambisi Jokowi Tiru Shenzen China, Bisa Terkendala Birokrat Korup Sekeliling Istana

11th April 2015 , 03:04 AM

Ambisi Jokowi Tiru Shenzen China, Bisa Terkendala Birokrat Korup Sekeliling Istana | Fiskal.co.id

Sumber Foto: Solopos

Indonesia kelak akan kehilangan orang orang yang hanya duduk diam tidak melakukan apapun secara berkelompok. Pembangunan infrastruktur, sektor energi untuk industri serta pengolahan air dan bendungan bendungan, pelabuhan baru, jalan raya tol lintas provinsi diyakini akan membuat ekonomi menggeliat, kontainer berseliweran, di mana kesemuanya itu membutuhkan sumber daya manusia.

Indonesia memang sedang mengkopi paste demi mengulang kembali keberhasilan Shenzhen, yang awalnya sebuah kampung di Cina selatan kini menjadi jantung ekspansi industri RRT. Apa yang dilakukan Shenzen adalah menerima kucuran dana besar untuk pembangunan plantasi, dan menyediakan tenaga kerjanya.

Dan kini di China tenaga kerja sudah kian mahal dan banyak pabrik, atau industri di china kini mencari tempat lain dengan biaya operasi yang lebih rendah dan biaya SDM yang murah.

Tim Condon, kepala penelitian Asia di ING Groep, sebagaimana dikutip dari Today Online (11/04) mengungkapkan, "Perlambatan
China membuat semua bergerak secara terbalik. Sektor manufaktur Asia Tenggara menjadi pemenang besar, seperti di awal 90-an."

Dan menurutnya ini akan menjadikan adanya kontes kecantikan antara negara-negara berpenghasilan rendah yang ingin menarik investasi, termasuk Vietnam dengan plantasi teknologi tinggi, Filipina dengan penduduk muda dan keterampilan berbahasa Inggris, adapun Indonesia memiliki perekonomian sektoral terbesar, dan ehem... UMR terendah.

Adu Murah UMR, Indonesia Juaranya

Buruh di Jawa Tengah, misalnya hanya mendapatkan upah 50 sen per jam atau sekitar enam ribu perjam dengan total penghasilan bulanan kurang dari 100 dollar.  Di kawasan industri sekitar Jakarta, upah hampir dua kali lipat. Adapun di Vietnam upah bulanan minimum adalah US $ 146, sementara itu di Filipina US $ 200, dan di Malaysia US $ 240.

Maka dari itulah pemerintahan baru hendak meningkatkan sektor
manufaktur dengan jalan investasi langsung dan menjadi bagian dari upaya Presiden Joko "Jokowi" Widodo demi mengurangi ketergantungan negara terhadap ekspor mineral mentah dan minyak sawit tak terolah.

Pada tahun 2001, pada awal booming China, sektor pertambangan di Indonesia menyumbang pendapatan komoditas mentah sebesar 52 persen, adapun dari barang-barang manufaktur hanya  sekitar 20 persen. Satu dekade kemudian, komoditas mentah menyumbang 68 persen, sementara manufaktur jatuh sekitar 14 persen.

Dan akhirnya pada 2014 Pertumbuhan ekonomi China melambat, menjadikan negara-negara seperti Indonesia dan Australia yang selama ini booming sumber daya alam mentah ikut kena hantam.

Namun, pabrik pabrik komoditas barang jadi di Indonesia sudah kena hancur hancuran akibat booming ekspor komoditas mentah itu sendiri, di tambah adanya penurunan produktifitas karena kalah saing dengan barang jadi china yang diimpor, dan ini masih diperburuk oleh permainan mafia harga, di mana pada akhirnya infrastruktur tidak terupgrade.

Maka dari itu model Shenzhen menjadi menarik di mata Jokowi. Model ekonomi dengan zona khusus dengan pelabuhan sendiri, listrik dan fasilitas dengan cara merampingkan persetujuan bagi investor.

Indonesia kini hendak
mengadopsi strategi, dengan kantong-kantong ekonomi khusus dan zona perdagangan bebas yang diteken dalam kesepakatan MEA dari Laos ke Timor Timur.

Memang hanya dengan bantuan investasi Indonesia bisa memanfaatkan portal yang ada yang saat ini sebagian besar berada di luar Jawa, pulau yang menahan sekitar setengah dari 250 juta penduduk Indonesia. Ungkapan menahan ini karena sejatinya mereka ingin sejahtera namun kesempatan dan upah bagus masih terkungkung di Jawa, suatu hal yang menjadi musuh ekonomi pertama pemerintahan Jokowi.

Di luar permasalahan infrastruktur Indonesia diyakini masih memiliki keunggulan atas rival rivalnya di Asia Tenggara, keunggulan yang paling kentara adalah luas wilayah, dan lalu
pasar mata uang tunggal dengan penduduk besar, setelah China, India, Amerika Serikat dan zona euro.

Strategi Baru Bisnis Multinasional, Bangun pabrik dan Langsung Jual di Emperan Pabriknya

Kini para pebisnis manufaktur akan serta merta mencari jalan keluar dari Cina, perusahaan asing yang 20 tahun lalu menempatkan pabrikan mereka di china daratan kini mencari ruang baru untuk mengatur produksi di samping pasar yang besar, demi menghindari biaya pengiriman yang tinggi.

"Dua puluh tahun lalu, perusahaan-perusahaan multinasional akan memilih lokasi yang paling murah dan kapal kapal barang yang bisa bulak balik." jelas Kelvin Teo, CEO Sembcorp di Singapura.
Sekarang, lanjut Kelvin trennya berbeda karena biaya logistik yang tinggi. Mereka ingin tempat produksi mereka dekat dengan pasar domestik. Bangun pabrik dan langsung jual di emperan pabriknya.

Inilah keunggulan yang paling jelas ditawarkan oleh Indonesia, walau harus berhadapan pula dengan musuh kedua yang paling ganas di Indonesia, dan mesti dihadapi pemerintahan Jokowi, yakni birokrasi terkorup secara regional, yang bahkan pemerintahan Indonesia Baru di bawah setir Jokowi sendiri diyakini tidak murni dari upaya korupsi orang orang terdekat sang presiden.


Apa yang di alami presiden Soekarno, pejabat pejabat korup yang punya akses masuk Istana Negara mewabah di zaman Presiden Suharto, mengendalikan partai besar di era Susilo Bambang Yudhoyono, belum akan tertangani bahkan walau pemerintahan ada di tangan Jokowi.

Pengabaian pada korupsi sangat tidak "Shenzen", karena apabila mengikuti resep keberhasilan China, juga harus dibarengi dengan penindakan paling keras terhadap korupsi yang menggerogoti sektor pembangunan melalui para birokrat. Pemerintah China menindak tegas dengan menghukum mati birokratnya yang ketahuan korup.

Tidak heran lembaga rating dan kredit, Standard & Poor, masih enggan mencabut status Indonesia sebagai pasar yang bermasalah, mereka masih menunggu keberhasilan pemerintahan baru yang berambisi menggeser China namun masih menyisakan perkara korupsi besar, yang diyakini akan mengulang cerita yang sama. Nafsu besar pembangunan, namun stamina terkuras karena korupsi.***Red