Antara Jokowi, Turis Jerman Misterius, dan Keterbelakangan Mental

17th April 2015 , 09:04 PM

Antara Jokowi, Turis Jerman Misterius, dan Keterbelakangan Mental | Fiskal.co.id

Sumber Foto: Harian Terbit

Turis Jerman (katanya), yang bernama anonim (karena itu katanya), Ridwan Fathurohman, pertama kali menuliskan dalam akun Facebook, saat Presiden Joko "Jokowi" Widodo tengah bersama Emil dan rombongannya dalam lawatan pemeriksaan persiapan konferensi AA (17/.

"Kata turis Jerman di Bandung: Your president is very handsome, cool and looks clever, wearing black tradition hat (kopeah) and eye glases…he look young…how old is he?. Aing teu bisa jawab..seuseurian olangan," tulis dia.

yang lalu (diteruskan entah siapa yang lebih dahulu) oleh akun path yang milik Achmad Iman, mencuri perhatian sejenak pelaku sosial media, karena turis tak dikenal, tak terverifikasi, baik skrip atau visual itu konon salah menebak siapa presiden Indonesia.

"your president is very handsome, cool and looks clever, wearing black tradition hat (kopeah) and eye glases...he look young...how old is he?" chit chat yang terdengar sangat kasual dalam bahasa turis.

Tebakan penulis dengan gaya sherlock holmes, turis wanita tua, atau pria gay, karena pertama kali diucapkan bertapa ganteng dan tampannya, keren, lantas terlihat pintar, memakai topi tradisional, dan kaca mata, berapa tahun usianya? untuk tidak ditanya oleh si turis apakah presiden itu lulusan kuliah mana? punya istri berapa? isi dompetnya berapa? atau ikut mengaji di mana?

Nah, sebelum tebakan bertambah liar, kisah yang terlalu fantastis untuk menjadi kenyataan itu terlanjur disebar luaskan oleh media media mainstream dan menjadikannya nyata.

Mengapa dijadikan nyata? Padahal banyak hal dilanggar dalam penyebaran berita ini, pertama belum diputuskan dengan seksama, siapa yang mengajukan chit chat dengan turis tersebut, apakah si Ridwan Fathurohman, atau  Achmad Iman, atau ada orang lainnya? Media mainstream seperti Tempo, Sindo, Republika terlanjut menyebarkannya secara mentah.

Yang kedua, sementara belum bisa dikonfirmasi siapa yang memulai isu, begitupun tentang isu utamanya yakni keberadaan turis Jerman yang entah seberapa Jerman mereka, apakah dari Bavaria? Dari Ruhr? dari Essen? Atau sekedar keturunan Jerman saja, atau jangan jangan mereka yang bersekolah di sekolah internasional Jerman kecil kecilan di kawasan Pager Gunung yang dipimpin principal Nina? Terlalu anonim.

Artinya! Kebenaran isu ini layak dipertanyakan hingga 1000 meja verifikasi editor, karena pertama tama ini bukan opini publik acak, di mana jurnalis berhak mengutip dan menyebarluaskan suatu pendapat, karena dalam sudut pandang ini nara sumber utama mengisahkan "tentang orang yang dia dengar".

Karena ini bukan opini publik, karena setiap opini bisa ditelusuri nara sumber yang menyatakannya, maka ini bisa dinyatakan sebagai khayalan publik. Lalu mengapa publik mengkhayal dijadikan berita utama oleh media hanya Tuhan yang tahu, namun sebegitu jelas dalam kondisi ini posisi Presiden Jokowi berada dalam kondisi ditertawakan.

Ngga Dianggep Presiden
Itulah eksemplar yang tersedia dari kisah ini. Presiden yang konon tertukar, salah kira, akhirnya presiden Joko Widodo dalam suatu kesempatan penting tersebut, tanpa ada angin dan dosa apapun dari dirinya menuai kecaman dan menjadi bahan tertawaan. Dikecam fisiknya dan dihina kepribadiannya, yang tidak gagah, tidak ganteng, tidak terlihat pintar karena tidak berstereotip berkacamata.

Ya si Jerman melakukan stereotip zaman firaun, bahwa kacamata itu tanda kepintaran, padahal kaca mata lebih berkaitan dengan mata bermasalah dibanding pintar otak dari titik ini saja bisa kita bisa pertanyakan si "turis" Jerman itu, kenapa sangat purbawi pemikirannya?

Poor Jokowi, tapi inilah resiko pejabat publik dalam sorotan media termasuk serangan serangan kampanye hitam yang rupanya masih belum ada rem nya. Mengingatkan kita tentang hancur leburnya imej calon wakil presiden dari partai Republik, senator Sarah Palin saat bersaing dengan Obama, sebagaimana digambarkan dalam film Game Change. Palin dan Jokowi memiliki kemiripan, terlalu mudah menjadi sasaran tembak karena keberadaannya yang ringkih.

Tidak dianggap kredibel, tidak dianggap sama sekali bukan karena tidak memiliki kecakapan dan kehandalan, tetapi karena keduanya jujur tampil apa adanya. Mewakili personalitas yang bisa dipoles tapi menolak dipoles. Palin menolak protokoler, menolak segala saran dari tim kosmetis politiknya, dan satu hal yang juga kami yakini dilakukan oleh Jokowi.

Jokowi mengenyahkan protokoler etiket dan itu pula terlihat dari gaya anaknya tampil di depan publik, Gibran Rakabuming. Pers mengkritik anak tersebut berkesan angkuh, dalam suatu snapshot di mana dagu pengusaha muda katering itu sedang terangkat bagai gaya berpidato dikator fasis Italia di era 1945 Il Duce Mussollini.

Tak ada seksi etiket, dan tim kosmetis yang mestinya mempermak Gibran sebelum dia "mempermalukan" ayahnya dengan sikap selengek minta ditampar orang se Indonesia. Namun itu menandakan bahwa ada kejujuran dalam penampilan presiden Jokowi berserta keluarganya.

Jujur, polos, apa adanya. Setara dengan mereka, orang perorang yang kerap berhimpitan di bis kota, atau sedang menunggu waktu makan siang tiba setelah lelah mengerjakan kertas kertas kerja. Bau keringat, dan bau minyak wangi oplosan, bukan bau minyak wangi seharga miliaran dalam anggaran dewan.

Nasi telah menjadi bubur, berita telah tersebar, citra presiden Jokowi tentu saja dirugikan. Namun bagi Jokowi sendiri mengingat sifatnya, tentunya ini bukan masalah besar dan dirinya tidak akan merasa rugi apa apa.

Terlebih, setelah perkembangan isu ini di ranah media sosial, ternyata yang menjadi konteks ramainya isu ini adalah pemikiran rasisme. Tindakan rasisme membandingkan fisik, Ridwan Kamil dengan Jokowi, dengan catatan lebih ganteng, berkacamata, merupakan suatu keunggulan dalam kepemimpinan, adalah ciri dan tindakan orang orang yang terbelakang mental.

Karena mereka yang terbelakang mental, memang otaknya hanya sanggup bekerja dalam batas mengklasifikasikan wujud kasar, tidak bisa diajak berpikir kognitif dan fungsional.

Namun sayang sekali media besar ikut menyebarkan virus keterbelakangan mental ini.***Red