Elegi 20 Mei, Ketika "Angin Belakang Sudah Lewat", Mahasiswa Pecundangi Diri Sendiri

27th May 2015 , 06:05 AM

Elegi 20 Mei, Ketika "Angin Belakang Sudah Lewat", Mahasiswa Pecundangi Diri Sendiri | Fiskal.co.id

Sumber Foto: id.facebook

Tawuran tidak pernah bisa dilepaskan dari imej Mahasiswa saat ini. Situasi yang berbeda, sangat jauh berbeda dari bagaimana di era sebelumnya saat mahasiswa mampu menjadi pupuk dari pondasi kebangsaan, di mana para pemuda dan mahasiswa mampu mengeluarkan energi terbaiknya, menjadi kacamata avant garde yang mampu membawakan solusi untuk masa depan.

Kini mahasiswa sekedar merumuskan ide pun tampak bagai orang tawuran, tidak jelas siapa memukul siapa, siapa yang paling tajam pemikirannya, berbeda saat penulis pada 1998 silam menonton pemaparan Anas Urbaningrum di TV, entah bersama alm Eki Syahrudin atau Fahmi Idris, atau Wimar Witoelar. Anas waktu itu menjadi kandidat ketua HMI, baru kandidat tapi sudah masuk TV, pemikirannya tersebar dipelbagai media, bernas dan bermotivasi untuk masa depan.

Sayang karir politiknya saat ini kita lihat terjegal oleh ulahnya sendiri, tapi Anas menjadi contoh tentang bagaimana mahasiswa menjadi jagoan agitasi, menjadi alternatif prakarsa, yang juga mengingatkan kita pada para founding father, Soekarno, Hatta, Syahrir, saat mereka menjadi mahasiswa. Tajam, serius, dan berorientasi masa depan.

Karena sejatinya para mahasiswa hidup untuk di masa depan, maka tidak mengherankan apabila pemikiran mereka jauh lebih ke depan. Dan mampu menerima perubahan dengan gempita, karena segala yang kolot dan tidak mau berubah adalah mainannya kura kura di dalam sumur.

Di eranya, mahasiswa apabila terlibat politik adalah politik yang high politic, politik kelas tinggi, kelas berat, yang tidak akan digoda oleh isu isu liar melainkan menjadi pemecah segala isu kembali kepada yang melemparnya secara tidak bertanggungjawab. Mahasiswa tidak dikendalikan isu isu di luar, melainkan memiliki ide segar khas mereka sendiri, ide ide liar yang sangat liar dan oleh karenanya hanya bisa dipraktikan di masa depan.

Penyambung Lidah Rakyat?

Oleh karena itulah sangat mengejutkan apabila mahasiswa, mengatakan bahwa mereka adalah penyambung lidah rakyat? Bagaimana mungkin mahasiswa yang semestinya berpikiran jauh ke depan, menjadi corong atau perpanjangan agregat rakyat an sich, karena rakyat sendiri, yang merdeka, berdaulat, sipil dalam negara yang demokratis memiliki corong mereka sendiri, perpanjangan tangan mereka sendiri yang dinamakan legislatif dan eksekutif.

Tentu saja dalam masyarakat sipil, mereka bisa menyuarakan pendapatnya dan dilontarkan kepada wakil wakilnya di parlemen, dan pada kelanjutannya parlemen akan menampung suara rakyat tersebut, dan mempertemukan agregasi kepentingan rakyat kepada eksekutif.



Lalu dalam kepentingan apa mahasiswa langsung bertemu dengan eksekutif? Tentu saja Apapun selain dari menyambung lidah rakyat. Mereka misalnya dan semestinya mewakili diri mereka sendiri, mewakili kepentingan masa depan, mewakili kepentingan generasi di bawah mereka, adik adik mereka, mewakili kepentingan saat beberapa tahun mendatang mereka telah lulus dari kampus, dan mengambil bagian dalam pembangunan nasional.

Sehingga melihat mahasiswa mengatakan diri sebagai penyambung lidah rakyat, hati menjadi geli tergelak. Barangkali mahasiswa itu terlalu berimersi dengan adagium "parlemen jalanan" padahal itu hanya cemooh semata, hanya anekdot pada kekuasaan ketika parlemen di suatu republik tersumbat dan tersendat, dan terlalu dominan membela rezim otoriter yang bebal antikritik.

Faktanya selepas orde baru dan berganti menjadi orde reformasi, Indonesia sudah bisa move on dan mampu menjadi negara paling demokratis dengan penerapan demokrasi langsung yang sukses dan bikin iri. Ini pun eranya desentralisasi di mana pemerintah pusat tidak lagi bisa menghegemoni urusan daerah, sehingga ketimpangan harga bahan pokok, ambil contoh akan menjadi domainnya pemerintah daerah bersama dengan tim pengendali inflasinya masing masing.

Jadi ketika ujug ujug ada sekelompok mahasiswa, berarak ke istana negara, menuntut turunnya harga, kepada presiden dan eksekutif umumnya, Anda mestinya terbahak bahak tertawa.

Untuk apa? Tidak ada beban konsekuetif dari presiden antara menolak atau tidak menolak seremoni aksi yang dilakukan oleh mahasiswa? Tidak ada konsekuensi logis dari aksi tersebut, selain suatu kejadian di mana remaja berkumpul, berteriak, diliput oleh media dalam satu dua kalimat running text, dan lalu lenyap begitu saja seminggu setelah aksi  sejak 20 Mei.

Pribumi?
Saat ini 27 Mei, lewat seminggu aksi dan Indonesia kembali menjadi normal, menjadi antah berantah sebagaimana biasa. Tidak ada tindakan konsekuetif dari para petinggi negara mengikuti aksi yang telah dilakukan mahasiswa. Padahal beberapa hari sebelumnya berlangsung peristiwa bersejarah, di mana mahasiswa diundang oleh Presiden untuk menyampaikan pokok pemikiran mereka.

kejadian itu sangatlah langka di Indonesia, bagaimana tidak, presiden yang tidak sedang terburu buru dalam pemerintahannya yang tenang tanpa ombak besar politik, mengayomi pressure group politik di tengah politik Istana Negara yang sedang stabil, adalah kebaikhatian jika tidak sedang menyebut itu sebagai kurang kerjaan.

Joko Widodo mengundang elemen mahasiswa, mengantisipasi "kebutuhan" mereka pada demontrasi 20 Mei, sejatinya pertemuan langka itu bisa dimanfaatkan oleh para pemikir muda tersebut untuk menyampaikan "gugatan generasi", bagaimana nasib mereka di masa depan, bagaimana pemimpin sekelas Joko Widodo memperhatikan generasi penerus, di mana mereka kelak akan mewarisi Indonesia dan permasalahannya.

Mereka bisa mulai dengan menuntut pemerintah tidak lagi memperbaharui kontrak kontrak sumur migas dan SDA lainnya, mereka bisa mulai menuntut presiden melakukan morotarium lebih luas pada pembalakan hutan demi industri, mereka bisa tuntut presiden mengeluarkan kebijakan yang melindungi semua mata air, sumber air, sumber daya hayati di darat, laut, dan udara. Mahasiswa juga bisa menuntut lepasnya ketergantungan pada hutang luar negeri, menuntut presiden mencapai target fiskal yang tidak dibangun dari defisit. Semuanya demi masa depan lebih baik, saat mereka sudah mulai menjadi "orang" di masyarakat.

Apakah itu yang mahasiswa lakukan? Mirisnya tidak, alih alih dalam demontrasi pada 20 Mei isu yang diusung oleh mahasiswa melalui elemen KAMMI, adalah perlindungan pada Pribumi? What the...

Satu hal yang saya ingat dari kata pribumi adalah segregasi buatan pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang memecah belah masyarakat dan membaginya dalam kategori kelas. Kelas satu di isi oleh orang peranakan Eropa, kelas dua orang peranakan China, kelas tiga oleh orang peranakan Arab, dan kelas empat pribumi. Di mana kategori macam itu pun menandakan kebodohan pemerintah kolonial Belanda akan ilmu antropologi.

Apakah Mahasiswa / KAMMI terjebak mesin waktu Doraemon dan berdemo di abad 19? Jika sekedar ejawantah isu, kalau begitu mereka ketinggalan kereta dengan para founding father dan pahlawan nasional seperti Setia "Multatuli" Budi, Kartini, H.O.S Cokroaminoto, yang telah berjuang demi adanya kesetaraaan.

Uniknya demo KAMMI itu malah kebalikannya, bukan menghapus segregasi dan menolak politik apharteid kolonialis, malah mengocok ulang kombinasi (recombining) dan menempatkan kocokan itu sehingga pribumi ada di posisi paling atas. Apa bedanya kalau begitu Indonesia modern dengan penjajah kolonialis?



Lalu apa artinya Indonesia susah payah menuntut apartheid dihapuskan di Israel, membela orang orang di Gaza dan Tepi barat dari cengkraman segregasi jahat zionis, jika mahasiswa KAMMI yang mewakili elemen Islam di Kampus sendiri malah menuntut penerapannya di tanah air? astaga...

Dus... Apakah dengan meninggikan derajat dari mahluk yang disebut pribumi, keadilan sosial akan tercipta? Misalkan dengan konsensi lebih banyak pada pribumi, dalam hal bebas pajak, kredit murah, atau bagi bagi tanah. Lalu muncul masalah berikut, pribumi yang macam apa..

Apakah mereka yang tinggal 1000 tahun lebih lama, dari yang 500 tahun yang datang setelahnya? Apakah para migran Yunan yang datang ke Sumatera? Orang Austronesia yang mendiami wilayah Timur Indonesia? Orang keturunan Pithecantropus Erectus dan Homo Soliensis? Atau campuran oriental Singkawang dengan Hindi, campuran Arab dengan Jawi, campuran hybrid Menado dengan Sunda?

Bahkan penelitian tentang asal usul orang Indonesia pun belum final, sejalan dengan ditemukannya peradaban tua di Gunung Padang, tetapi mahasiswa yang semestinya membawa buhul buhul ilmiah di pundak mereka malah menuntut hal hal bodoh dan mengada ada, yang ironisnya tidak ada keterkaitan langsung dengan perbaikan pada republik ini di masa depan, di saat mereka menjadi pewarisnya.

Meminta pribumi mesti diperhatikan, akan halnya budaya yang mereka bawakan sebagai atribut demontrasi adalah budaya serapan dari bangsa asing, semisal topeng Guy Fawkes dari Inggris yang tidak ada keterkaitan isu dengan pribumi atau nonpribumi, jilbab panjang (timur tengah), t - shirt, celana jeans (barat), caping (asia timur), kameja (persia-barat), yang tentunya berbeda dengan produk "pribumi" seperti kain batik, kebaya, baju kampret, ulos, iket, yang tidak berbagi budaya dengan bangsa lain, walau serumpun sekalipun.

Lain halnya jika mereka datang minta pribumi diperhatikan dengan kostum baju kampret dan iket, khas suki Badui, atau koteka khas suku Papua, setidaknya secara display demontrasi itu bisa dipertanggungjawabkan.

Akhirnya, dari sekedar isu yang dibawakan secara salah asuhan, membawakan isunya pun ditampilkan dengan salah asuhan pula. Penulis tergelitik menggugat, mahasiswa mana itu? Siapa dosennya? Siapa mentor mereka? Buku apa yang mereka baca? Adakah dunia pendidikan Indonesia sudah sedemikian parah? Setelah justru pendidikan mendapat porsi dana APBN yang melimpah?

Penulis pernah menuliskan prediksi beberapa bulan sebelumnya bahwa aksi ini akan anti klimaks dalam artikel "Setelah Foke, Prabowo, Petral, Akankah Gerakan Mahasiswa Kali Ini Yang Dipermalukan Joko Widodo?"   yang sama sekali tidak disangka, bukan sekedaar dipermalukan oleh seorang pedagang kayu dari Solo, tapi mereka mempermalukan diri sendiri dengan menuntut adanya aphartheid di Indonesia.

Ibarat angin dari belakang tubuh manusia, isu yang dikeluarkan mahasiswa pada 20 Mei tersebut, sangat bau sangit, namun Alhamdulillah segera mereda.***Red