Elegi Untuk Angeline, Elegi Ramadhan, dan Momentum Kita

10th June 2015 , 07:06 PM

Elegi Untuk Angeline, Elegi Ramadhan, dan Momentum Kita  | Fiskal.co.id

Sumber Foto: indosurflife.com

Dari semua hiruk pikuk yang ada berkaitan dengan kisah pilu Angeline gadis berusia delapan tahun asal Sanur Bali, yang dibunuh dengan kejam, dan diperlakukan biadab sepanjang hidupnya yang singkat, maka perkenankan kembali untuk mempertanyakan sejauhmana kita akan membawa negara ini menjadi tempat yang nyaman untuk anak anak dan pula masa depan mereka.

Kesejahteraan anak, sebagaimana terkamtub dalam konstitusi kita memang sangat altruis namun ambisius. Sangat ambisius yang bahkan mengapa begitu ambisius membuat kita ingin menangis miris sendiri.  Fakir miskin dan anak terlantar menjadi tanggungan negara, tulis konstitusi,  pada faktanya negara menjadi alasan utama mengapa semakin banyak anak anak menjadi terlantar.

Negara dalam kondisinya yang salah urus, yang kekayaannya dilarikan ke luar negeri dalam ratusan skema melibatkan pemerintahan dan swasta, membawa kebocoran besar, pada akhirnya menjauhkan rakyat dari kesempatan membina diri secara finansial, membina diri secara sosial dan psikologis, dan malah memojokan rakyat untuk malah membinasakan diri sendiri.

Yang korupsi tidak sadar bahwa mereka membinasakan masa depan anak anaknya, di mana mereka pikir anak anak mereka akan senang dengan kekayaan hasil curian. Yang tidak korupsi, yang pinggiran dan mayoritas malah tengah binasa kontan karena main panjang harga diri, tidak berupaya mengambil hak mereka yang tengah dikorup, dengan cara abai serta cenderung meremehkan kekuatan demokrasi dan politik.

Akhirnya muncul suatu hasil demokrasi yang pas pasan, barangkali bangkrut dan defisit, walau mendapat pujian kiri dan kanan dari lembaga dunia, tapi demokrasi kita tidak benar benar dalam bentuk idealnya, di mana uang bisa membayar kursi dan kedudukan, dibanding prestasi dan kapabilitas.

Demokrasi kita yang kita jalani dan kita proses begitu lamban dan penuh lemak jahat, menjadi alasan utama mengapa konstitusi tersebut semacam oksimoron, entah dalam posisi konstitusi yang bersumpah menolong anak terlantar itu tengah meledek kita, atau sebaliknya.

Ada ratusan pasal hukum dan konstitusi berkaitan perlindungan generasi, perlindungan anak, kesejahteraan keluarga, dan bagaimana kesejahteraan ibu hamil, yang menjamin generasi pelanjut yang kekar dan mampu membawa negara ke level ambisi berikutnya, tapi sayangnya yang semacam itu justru tidak eksis di Indonesia.

Karena ke manapun wajah kita berpaling sesegera mungkin pada pedal kebaikan, dan harapan untuk muncul konstitusi profetik, di sana justru bercokol DPR dalam tiwikrama terkorupnya, manunggaling kawulo dana aspirasi demi perut golongan sendiri. Membuat keyakinan kita akan perbaikan pada generasi penerus dengan jalan UU dan fiskal, kandas. Plok bagai bertepuk tangan! Kandas.

Membuat tragedi Angeline adalah gerbang pembuka yang tengah berlumut, berlumut dipenuhi sarang laba-laba, karena sejatinya kita sendiri takut membukanya, takut untuk mengetahui sebenarnya ada berapa banyak Angeline lain di Indonesia. Kisah Angeline dengan demikian bukanlah epilog, melainkan prolog edisi buka gerbang neraka, pada sisi abai kita untuk generasi penerus.

Anda tahu kisah Angeline lebih dari saya. Sejauh yang saya baca, dia anak adopsi, di ambil anak oleh orang lain saat baru berusia empat hari. Orang tuanya yang asal Banyuwangi tidak mampu membiayai persalinan. Sementara orang tua angkatnya bukan pelabuhan tambatan yang pas untuk Angeline kecil, tidak ada chemistry baik antara anak itu dengan keluarga angkatnya. Lalu berujung pada KDRT, dan akhirnya menempatkan Angeline satu meter ke dalam tanah dengan penguburan bagai mengubur anak kucing yang tidak sengaja Anda tabrak di jalan.

Dari tubuh Angeline kecil ditemukan luka luka fiskis makroskopis, bisa dilihat kasat mata, sundutan rokok, lebam, jerat di leher, dan pukulan keras di kepala. Ini belum termasuk luka miskroskopis, seperti bagaimana gizi anak itu, dan mengapa mudah mengeluarkan darah dari hidung sebagaimana pengakuan tetangganya. Lalu bagaimana dengan luka jiwa.

Luka jiwa ketidaktahuan bahwa sebenarnya dunia itu indah, ada senyum tawa, ada kehangatan keluarga, ada pelukan dan ciuman, ada doa dan harapan agar dirinya memiliki kesempatan bersaing sehat mengejar cita cita, ada dunia yang penuh kawan kawan baik yang bisa diandalkan. Tidak ada yang mampu memberitahu pada Angeline bahwa dunia itu sebenarnya indah.

Dus, yang Angeline tahu, adalah namanya Angeline, dalam arti nama dirinya adalah malaikat. Bagi siapa? Untuk siapa? Dalam hal ini orang tua kandung anak itu pasti muncu ke permukaan, di saat semuanya sudah terlambat, dan masyarakat mulai mengubah fokusnya. Padahal, semestinya ini memberikan kita PR besar untuk mengenali lagi misi mengapa malaikat mungil itu mati di tengah tengah kita semua.

Sebentar lagi ada momentum Ramadhan, bagi muslim ini momentum untuk bermuhasabah, menghitungi kembali peran sosial mereka, dan melakukan prosesi "lapar" untuk mengingat mereka yang tengah lapar.  Mengingat kembali proses "kosong" untuk mengisi mereka yang tengah kosong.

Dan kekosongan itu bukan tentang kosong uang, kosong makanan, dan kosong fisik semata. Tapi bagaimana kekosongan ruhaninya, bagaimana mengejawantah sikap kesatria. Bagaimana mendidik generasi muda untuk menjadi teladan, menjadi ksatria baru yang menghormati masa depan dirinya sendiri dan mau melindungi orang lain.

Saya mengerti bahwa akhir akhir ini, diskusi tentang agama mengerucut pada distingsi amat sangat tidak penting seperti syiah vs sunni, muslim vs non muslim, KTP dengan atau tanpa kolom agama, suara kaset toa dalam masjid, atau penegakan khilafah dan demokrasi. Seriuslah, apakah Anda ingin mengisi Ramadhan Anda dengan isu isu macam itu?

Ramadhan adalah momentum elegi untuk Angleline dan mereka yang kini menjadi Angeline baru di luar sana. Jika Anda begitu peduli dengan Angeline, maka jadikan Ramadhan ini tolakan untuk memahami makna mengapa Angeline hadir dalam kondisi ini. Perhatikanlah lingungan Anda, ajak anak anak Anda bicara, ajak generasi muda kita bicara, berikan mereka ruang, berikan mereka peluang untuk berkompetisi, berikan mereka kondisi untuk bisa saling rangkul dan cengkerama dengan sesama mereka.

Kumpulkan amal amal Anda bersama misalkan dengan membuat taman bermain. Membuat acara poliklinik gratis, membuat lapangan voli baru, membuat gerakan komunal pemberdayaan, membuat gerakan konseling pada masyarakat yang membutuhkan, dibanding sekedar mengisi kas kas uang pada tempat ibadah dan lalu pulang begitu saja. 

Kita tidak ingin melihat, tidak ingin Tuhan melihat kita, di mana Tuhan menurunkan kebaikan dan rezeki ke bumi dalam bentuk anak anak, dan kita malah menguburkan mereka dengan tidak berhak.

Fatihah untuk Angeline.***Red