Kyai Maimun Zubair, Berdiri Dari Kursi Roda Hanya Demi Lagu Indonesia Raya

5th August 2015 , 03:08 AM

Kyai Maimun Zubair,  Berdiri Dari Kursi Roda Hanya Demi Lagu Indonesia Raya | Fiskal.co.id

Sumber Foto: tempo

Ada yang menarik dari Muktamar NU ke -33 yang dilaksanakan di jombang. Bukan tentang Kisruh Muktamar, tatapi tentang sebuah nilai dari kata "cinta tanah air". 

 

"Cinta tanah air" seakan begitu melekat didalam sanubari kiai sepuah NU asal Rembang, kyai Mamoen Zubair, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Moen. Di usianya yang sudah udzur 86 tahun, Mbah moen masih menyempatkan diri menghadiri muktamar NU yang di helat jauh di provinsi seberang. 

 

Namun bukan itu yang membuat saya pribadi berdecak kagum terhadap beliau, di tengah segala keterbatasanya karena usia dan kesehatan, beliau harus menggunakan kursi roda jika hendak pergi ke mana-mana.

 

Namun, hal tersebut tak pelak menghalangi Mbah Moen, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Jawa Tengah, itu menyanyikan Indonesia Raya dengan sikap berdiri tegap dan bangun dari kursi roda. Dengan penuh khidmat mbah moen ikut menyayikan lagu kebangsaan karangan W.R. Soepratman tersebut hingga akhir, sembari memegangi tongkatnya untuk menjaganya agar tetap berdiri.

 

Sikap mbah moen ini membuat air mata saya menetes, bagaimana tidak, saya yang muda dan masih sehat ini terkadang masih suka mengeluh jika harus mendengarkan lagu Indonesia raya yang lama dan membosankan itu. 

 

Mbah moen seakan mengajari saya bagaimana seharusnya saya bersikap, ini bukan tentang sebuah lagu, lebih dari itu, lagu Indonesia raya adalah bentuk perjuangan bangsa Indonesia selama ber abad-abad yang harus ditebus dengan darah, nyawa dan air mata, hanya agar generasi selanjutnya dapat menyanyikannya dengan lantang tanpa ketakutan. 

 

Memang benar apa yang diungkapkan oleh Alissa Wahid, putri pertama almarhum Gus Dur yang pertama kali mengunggah foto tersebut ke akun Twitter. "itulah bedanya Mbah Moen, kyai Islam Nusantara, dengan mereka yang lahir di Indonesia, tapi haramkan hormat bangsa." *** kny