Stop Mengeluh, Lemahnya Rupiah Adalah Senjata : Sektor Pariwisata Bisa Naik Signifikan

30th August 2015 , 10:08 PM

Stop Mengeluh, Lemahnya Rupiah Adalah Senjata : Sektor Pariwisata Bisa Naik Signifikan | Fiskal.co.id

Sumber Foto: cempaka tourism

"Di dunia cuma ada dua jenis manusia." Terang tokoh Blondie dalam film monumental Sergio Leone The Good, the Bad, Anda the Ugly. "Yang menggali kuburan, dan yang memegang pistol." tambahnya seraya menodongkan senjata pada tokoh Tuco agar segera menggali.  Dalam film tersebut, baik tokoh Blondie dan Tuco sama sama berjuang memperebutkan emas curian. Tapi yang pegang pistol lah yang mengambil emas lebih banyak.

Pada saat rupiah melemah, ekonomi sulit. Indonesia berada pada dua pilihan, untuk tetap memegang senjata dan cari keuntungan dari kesempitan, atau menyerah dan menggali kubur saja? 

Berdasarkan laporan dari Global Indonesia Voice, pada masa sulit dan rupiah sempoyongan ini sebenarnya ada beberapa sektor yang menghasilkan ledakan devisa.
Salah satunya adalah pariwisata, yang secara teoritis justru harus mampu mendatangkan keuntungan dengan magnitudo hebat. Karena teorinya saat Rupiah terus menurun. Daya beli turis yang memegang dolar tentu semakin kuat dan kuat, terutama pada turis yang mata uangnya lokalnya tidak menurun lebih rendah dari rupiah.

Wisatawan yang berkunjung ke Indonesia sendiri sudah hampir pasti akan habis habisan, dari sekedar jajan, menonton aktraksi, mencari hiburan, dan sebagainya. Plus dari sektor yang booming bisa sejenak mengurangi kans pengangguran.

Lebih dari itu, segala
transaksi yang dilakukan wisatawan pasti dilakukan dalam mata uang Rupiah, yang justru akan membantu memperkuat nilai rupiah serta meningkatkan cadangan devisa pemerintah. Plus nya lagi, sektor yang selama ini kebal krisis dan pelemahan rupiah, seperti UMKM bisa ikut menggenjot pendapatannya.

Berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kekuatan pariwisata bagi perekonomian. Pada tahun 2014 saja, wisatawan asing menghabiskan Rp 157 triliun. Terbanyak kedatangan dari Australia (16,15%), Singapura (10,26%), Malaysia (9,44%), dan China (8,79%). Dan pangsa ini meningkat drastis 132,7%. Namun, dari data tersebut jelas ada PR besar bahwa Indonesia harus mampu menarik wisatawan dari Eropa, Asia Tengah, dan Amerika Serikat sebagai pemilik dolar.

Indonesia harus mampu kejar
target 10 juta wisman tahun ini. Sebagaiman pada lalu negara kita dikunjungi 9,4 juta wisman. Sampai Juni tahun ini, sudah tercatat 4.657.767 wisatawan dan mengkhawatirkan karena kurang dari setengah target. Namun masih ada harapan karena wisatawan pada bulan November Desember yang dingin cenderung lari ke negara lebih hangat.

Untuk mewujudkan tujuan ini, Menteri Rizal Ramli telah memulai kesepakatan dengan Menteri Pariwisata, Arief Yahya, dan Gubernur DKI Jakarta, Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama untuk fokus pengembangan pariwisata Jakarta pada empat sektor. Bisnis, maritim, kuliner, dan seni dan budaya, yang akan secara luas dipasarkan. Pemerintah telah membuka jalan, kini giliran warga untuk menyambutnya dengan lebih serius.

Jangan alergi pada asing, apalagi yang buang "uang cuma cuma" di negeri ini.***Red