Sigit Priadi Pramudito, Dirjen Pajak dengan Segudang Pengalaman dan Terobosan

10th April 2015 , 02:04 PM

Sigit Priadi Pramudito, Dirjen Pajak dengan Segudang Pengalaman dan Terobosan | Fiskal.co.id

Sumber Foto: kemenkeu. go.id

Direktur Jenderal Pajak yang baru, Sigit Priadi Pramudito kembali menjadi sorotan dan buah bibir karena memblenya penerimaan pajak pada Triwulan I (Januari-Maret) 2015. Masih sedikitnya pendapatan pajak ini, menurut beberapa Pengamat perpajakan tak lepas dari lemahnya perekonomian Indonesia. Minusnya pendapatan pajak dari 11 sektor utama dan hanya 6 sektor yang mengalami kenaikan juga berdampak pada seretnya kinerja penerimaan. 

 

Melihat lemahnya pendapatan pajak dari beberapa sektor, banyak orang kembali bertanya, apa sebenarnya Visi dan Misi Dirjen Pajak Sigit Priadi Pramudito untuk mendongkrak penerimaan Pajak?

 

Sebagai Dirjen baru, Sigit Priadi Pramudito atau yang lebih sering disapa pak Sigit, memang sosok senior di Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Kawakan ini mengabdi di DJP selama 28 tahun sejak tahun 1987. Meskipun cukup lama bekerja di perpajakan nama beliau memang kurang familiar karena sepi dari pemberitaan.

  

Namun perlu diketahui, Pria kelahiran Purwokerto, 17 September 1959 ini, meniti karir dari bawah, dari tingkatan penata Muda atau PNS Golongan IIIa. Jabatan pertamanya adalah Kepala Seksi Pendataan Perkebunan, Perhutanan dan Pertambangan Direktorat Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) selama periode 1989-1991.

 

Setelah itu, Sigit selalu berpindah pindah posisi. Tercatat selama berkarir di DJP , Sigit mengalami 10 kali loncatan karir sebelum akhirnya terpilih sebagai Dirjen Pajak. Akan tetapj karir Sigit mulai menanjak pada tahun 2002, dimana saat itu ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Perusahaan Masuk Bursa. 

 

Karir Sigit di DJP kembali diuji ketika tahun 2006 dimutasi sebagai Kepala KPP Wajib Pajak Besar II. Barulah kemudian di era Dirjen Pajak Darmin Nasution, ia diangkat menjadi Direktur Teknologi Informasi Perpajakan. Kala itu DJP tengah diterpa badai kasus Gayus Tambunan yang diketahui hingga masyarakat awam. 

 

Saat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melakukan perombakan besar-besaran di tubuh Ditjen pajak, pengabdian Sigit mulai di apresiasi. Ia dipromosikan untuk menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) DJP Banten, sebelum akhirnya ia menjabat sebagai Kakanwil DJP Wajib Pajak Besar pada tahun 2011.

 

Pada tahun 2014 saat proses lelang Dirjen pajak diselenggarakan, Sigit ikut seleksi dan pada akhinya ia terpilih menggantikan Fuad Rahmany sekaligus menyingkirkan puluhan kandidat Dirjen Pajak yang lain.

 

Terobosan Sigit 

Saat prosesi pengangkatan dirinya menjadi Dirjen pajak, Sigit memaparkan sejumlah visi misi serta terobosan-terobosan apa saja yang akan ia lakukan selama menjabat menjadi Dirjen Pajak. Sigit mengatakan akan melakukan perbaikan regulasi baik dalam rangka memperluas basis pajak maupun untuk mendukung penegakan hukum.

 

Kemudian dia juga kan melakukan terobosan di bidang penagihan aktif khususnya melalui blokir rekening, penyitaan aset, pencegahan ke luar negeri dan penyanderaan (gijzeling).

  

Ekstensifikasi menurut Sigit, akan dilakukan melalui kegiatan Operasi Pasar oleh Kanwil DJP serentak di seluruh Indonesia sesuai dengan potensi masing-masing wilayah.

 

Sementara terobosan lain yang juga akan dilakukannya ialah di bidang administrasi dan pengawasan berbasis IT. Meliputi implementasi tax invoice secara menyeluruh, perbaikan basis data perpajakan, digitalisasi SPT dan implementasi e-SPT, e-Filing, implementasi cash register dan Electronic Data Capturing (EDC) yang online dengan administrasi perpajakan, pengawasan wajib pajak berbasis risiko dan berbasis IT yakni aplikasi profile berbasis web (Approweb), compliance risk management (CRM) dan aplikasi agregat.

 

Terobosan-terobosan itu akan didukung dengan penguatan fungsi Center for Tax Analysis (CTA). Di samping itu, akan dilakukan implementasi tax clearance atas kegiatan pelayanan public, misalnya SIUP, IMB dan kegiatan ekonomi lainnya diantaranya pengajuan pinjam/kredit dan pengajuan tender (online system) 

 

Oleh karena itu, meskipun triwulan pertama pendapatan pajak sedikit melempem, namun dengan visi, misi serta terobosan-terobosannya, Sigit yakin bahwa target pajak 2015 akan mampu terpenuhi. Apalagi secara pendidikan, Sigit mendapatkan gelar Master of Arts in Economics dari Syracuse University Amerika Serikat pada tahun 1993, hal ini tentu akan banyak membantunya memenuhi target pajak yang dipatok sangat tinggi oleh presiden Jokowi, selain pengalamannya yang sudah sangat matang yakni hampir 30 tahun mengabdi di DJP. (Kemenkeu.go.id)