Yuddy Chrisnandi, Di Tengah Perang Kepada Mereka Yang Titip Absen

3rd June 2015 , 02:06 AM

Yuddy Chrisnandi, Di Tengah Perang Kepada Mereka Yang Titip Absen | Fiskal.co.id

Sumber Foto: Sayangi.com

Ini kejadian langka, namun nyata, terlalu menarik perhatian untuk diabaikan. Yakni seorang menteri yang notabene menjadi bagian dari birokrasi dan fokus pada keterampilan praktis, dikukuhkan menjadi seorang guru besar selama menjabat. Maklumlah, memandukan antara praktik dan akademis hanya ada dalam kisah lampau di negeri ini, di mana jejeran praktisi juga orang yang mesti handal keilmuannya.

Terlebih saat demokrasi di Indonesia bisa dibeli, bisa diatur dalam kerangka koruptif, nepotis, dan kolutif, di mana inilah cerminan dari demokrasi liberal yang diterapkan saat one man one vote system berjalan, dalam kultur politik massa yang masih feodal.

Tidak heran kabinet Indonesia Joko "Jokowi" Widodo sangat disorot dalam kacamata miskropkopis terutama dari rekam jejak keahlian calon menterinya. Banyak menteri yang konon muncul karena politik dagang sapi, tapi toh tidak logis seorang presiden diperiode pertama jabatannya, bunuh diri politik dengan mengayomi menteri menteri yang tidak berkualitas.

Salah seorang yang lolos kritik itu adalah Yuddy Chrisnandi, sang Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang juga beberapa minggu lalu dikukuhkan menjadi guru besar dibidang politik ekonomi, tepatnya Ekonomi dan Kebijakan Publik di Universitas Nasional.

Yuddy bukan hanya sekedar lolos radar kritik dari rekam jejaknya yang merupakan sosok profesional dan akademis. Orang Cirebon kelahiran Bandung yang lahir 29 Mei 1968 ini lolos juga dari radar politik yang selalu kejam dan menyisihkan mereka yang berbakat dan potensial. Barangkali karena Yuddy bisa digambarkan sebagaimana pameo Betawi ini "Die kepake, soalnye hadir".

Ya. Komunikasi politiknya 

Kehadiran itu menjadi semacam memento bagi seorang Yuddy Chrisnandi. Dan bukan sekedar hadir, tapi hadir dengan bold, dengan cetak tebal. Saat maju menjadi calon Ketua Umum Partai Golkar pada 2009, dirinya vis a vis dengan tokoh nasional lain mengandalkan komunikasi politik dalam resonansi "yang muda maju".

Kehadiran pula yang membuatnya menambatkan diri setelah pemilihan yang "sukses" mengorbitkan namanya itu ke Partai Hanura. Kenapa tidak toh? Masih muda? Modal modal politik ada ditangannya, yang belakangan akhirnya dirinya mesti diperhitungkan.

Ini yang menjelaskan kenapa Jokowi memilihnya, dan mengapa pula Yuddy menjadi salah seorang icon kabinet, dengan gagasan yang nyeleneh namun masuk akal.

Di antara "kehadirannya" yang terbaik adalah meminta agar industri perhotelan menjadi industri mandiri yang tidak disubsidi pemerintah melalui skema "Rapat PNS". Jika industri hotel di Indonesia bergantung pada "uang rakyat" pada bancakan rapat rapat PNS, maka itu sama saja bunuh diri industri pelan pelan, lantaran industri tersebut tidak muncul karena proses kompetitif.

Karena komunikasi politiknya bagus, dan hadir. Tidak heran jika Yuddy pun "kepake" juga oleh para surveyor. Dalam survei PolcoMM Institute, misalnya mereka merilis tujuh Menteri yang kinerjanya paling diketahui oleh publik di antaranya ada Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan,  dan tentu saja Yuddy Chrisnandi.

Lebih unik lagi, Yuddy pun memaparkan mengapa ia bisa sampai di posisinya yang sekarang sebagai Guru Besar di Universitas Nasional. Adalah karena dirinya tidak pernah absen dalam mengajar mahasiswa dan membuat penelitian akademis, walau dirinya sibuk menjadi praktisi politik langsung.

Tidak ada toh istilah titip absen pada seorang Yuddy Chrisnandi. Ya titip absen, seolah olah ada padahal tidak ada. Sesuatu yang jamak kini dilakukan oleh para politisi, dan menular ke anak emasnya.

Dan tentu saja menjadi jelas mengapa Jokowi memilihnya sebagai MenPAN-RB. Yakni memerangi para PNS yang setor tanda tangan tapi absen kehadiran.***Red