Permadi Arya, Sang Resonan Islam Nusantara, DPO Nya Kaum Fundamentalis

23rd August 2015 , 07:08 PM

Permadi Arya, Sang Resonan Islam Nusantara, DPO Nya Kaum Fundamentalis | Fiskal.co.id

Sumber Foto: .googleusercontent.com

Seperti halnya dunia sastra Indonesia tidak pernah mengenal siapa itu Jonru? Maka dunia sastra tidak pernah mengenal kepingan yang berlawanan dari Jonru, yakni Permadi Arya.

Sastra Indonesia yang sejauh ini hanya terdengar sebagai bagian budaya pop yang dikapitalisasi para pemodal, menemukan bentuk yang lebih merdeka dalam ruang sosial media di mana pemodal dan ambisi ribuan eksemplarnya mesti gigit jari, dan harus hadapi kenyataan bisa diakses orang secara gratisan.

Lalu perkenalkanlah, Jonru dan Arya Permadi. Keduanya dalam penilaian penulis adalah resonan atau corong amplifier terkuat sastra genre sosial media, walau secara subjektif dari sisi penilaian penulis, Permadi Arya bisa memiliki kualitas sastrawan sebenarnya di dunia nyata.

Sementara Jonriah Ginting a.k.a Jonru, walau menerbitkan karya tulis dalam bentuk fisik di dunia nyata, tercermin dari bagaimana dirinya merangkum dunia lalu menuliskannya dalam bentuk kata kata, sangatlah tidak inspiratif dan berkualitas.

Keduanya dalam pelbagai macam hal berlawanan, bahkan bila bertemu satu gelanggang akan saling tikam. Karena membawa dua ide yang saling berhadapan. Yakni ide Islam transnasionalis Jonru yang mengikuti wacana Ikhwanul Muslimin a'la PKS, melawan Islam Nusantara a'la Nadhlatul Ulama yang resonankan oleh Permadi Arya.

Keduanya berwacana, meresonansi ulang wacana para pemikir purna di PKS atau NU, dan wacana yang diperhatikan seksama banyak orang, dikagumi, dihayati, mampu menggerakkan hati, dan itulah sastra sebenarnya.

Ketika kata mampu menggerakkan manusia, bagi penulis adalah sastra, setidaknya yang sempat dikubur dalam dalam selama satu periode panjang Orde Baru: yakni realisme sosial.

Wacana, sajak, pekikan, kobaran semangat, bukan dalam bentuk melambai estetis, dan tidak ditujukan untuk membuatnya makin abstrak, tidak terkesan canggih, tidak ruwet, tidak dipaksa paksa di sembunyikan makna nya dalam kesengajaan yang angkuh, adalah realisme sosial.

Dan Permadi adalah sastrawan serius kita di dasawarsa kedua milenium ini, yang benar benar membawa nama Indonesia sebagai indonesianis. Anda tentunya pernah kenal sosok ini secara audio visual sebagai Ustad Abu Janda Al Boliwod, dalam video viralnya memparodikan ancaman ISIS di Youtube.

Kini dia wacanakan Islam Nusantara melawan komunitas yang secara majasi namun baku disebutnya sebagai Kebab (makanan khas arab dari daging kambing namun dalam konteks ini bisa diartikan sebagai golongan muslim pemarah berpikiran pendek), Bahlul (bodoh), Onta Arab, dan melakukan lontaran satir, gambar meme dengan kata kata menghujam, membuat tawa. Lalu akhirnya menggerakan dan menginspirasi sekian banyak orang mencari tahu apa itu Islam Nusantara, Islam yang damai, mempersatukan Indonesia dalam kebhinekaan, dan menangkal gerakan serta komunitas fundamentalis yang hendak memecahnya dengan ideologi perang a'la konflik di tanah Arab.

Tentu saja, komunitas yang dikritiknya tidak tinggal diam. Permadi sempat hiatus dalam berkarya pada piranti sosial media Facebook, sehingga terbersit rasa khawatir, jangan jangan dia diculik dalam arti sebenarnya oleh kebab, bahlul, onta arab dan sejenisnya. Bukan tanpa alasan, karena sempat tersebar di lini masa gambar yang memperlihatkan Permadi DPO, sampai sampai ada dalam gambar DPO itu ada lambang Polri segala, mencerminkan bertapa kebabnya pembuat Meme dan bertapa pentingnya orang seperti Permadi tetap ada dan mendidik masyarakat mewaspadai gerakan para kebab.



Namun, bila kabar diculiknya itu benar, disatu sisi melegakan, setidaknya bagi pengamat sosial media seperti penulis. Alasannya, pertama kalinya seorang sastrawan sosial media dibungkam. Ini sejarah tho? Layak dapat tempat, layak dicatat.

Tapi Alhamdulillah puji Tuhan, Permadi Arya muncul kembali sehat wal afiat di sosial media Facebook, dan tanpa tunggu kopi rada dingin sedikit, langsung nyolot dengan gambar ini :



Gambar menunjukkan kata, caption kata menunjukkan sastra satirik yang serius. Tentu saja, Permadi Arya menjadi seleb yang justru tidak penting nilai figuritas lahir di mana? anak siapa? Orang mana? Hobby makan apa? dst, karena seleb sastra jenis ini, bukan untuk jadi sastrawan petantang petenteng "mereka suka aku ga, aku layak ga, tulisanku bagus ga?" nop.

Tapi sastrawan jenis, "kebab mana lagi yang harus kurkejai?". So. Jika sastrawan umum ingin dirinya beken, yang ini kebalikan, yakni men-unbeken-kan komunitas lain yang dia anggap sedang mengerjai Indonesia, apapun cost-nya.***Red