Erick Thohir dan Bulan Madunya dengan Inter Milan

Erick Thohir dan Bulan Madunya dengan Inter Milan

Apa yang dilakukan Erick Thohir jangan sampai disepelekan. Ya dia baru saja membeli klub sepak bola dari Italia. Tapi bukan sekedar klub sepak bola. Yang di belinya adalah Inter Milan, dan menjadi presidennya. Klub tetangga dan pesaing abadi AC Milan, yang dikuasai para politisi Italia.

 

Cepat atau lambat, pria kelahiran Jakarta 1970 ini diyakini bisa mencapai popularitas melewati sisi politis, karena gesekan antara pemilik bola di Italia, lebih bernilai politik. Dan bila Erick dekat dengan petinggi politik Italia, ini artinya dia telah membuka satu jalan besar, bersinggungan dengan para tokoh politik di kawasan Mediterania.

 

Namun, kronika tentang bagaimana anak melayu menguasai kawasan Utara Italia itu bukan sekedar politik saja, tapi juga budaya. Baru kali ini dalam sejarahnya klub sepak bola Italia dikuasai oleh orang non Italia. Ada AS Roma yang dikuasai oleh orang Amerika Serikat, tapi masih berdarah Italia, yakni James Pallota. Erik adalah Alice in Wonderland.

 

Kawasan yang dalam sejarahnya pernah disebut dalam Liga Lombardia, yakni gabungan kota kota yang menjadi penjaga kebudayaan Pax Romana, dari serangan barbar Utara, bahkan dari serangan Frederick I Barbarossa, kini harus berbagi kisah dengan orang dari Asia Tenggara. Erick mewakili Indonesia dan budayanya.

 

 

Diintrik Bawahan

 

Sebagai Presiden Inter Milan Erick Thohir baru saja lolos dari kritik jendela transfer pertamanya, sedikit ada tekanan, namun bisa lolos dari sasaran tembak media Italia yang galak dan kritis.

 

Bahkan pada Minggu (02/03), pasukan Erick berhasil menahan tim yang sedang cetar membahana AS Roma di kandang lawan, stadion Olimpico, suatu prestasi yang hanya bisa dilakukan oleh Sassuolo sejauh musim ini berjalan.

 

Erick tidak dipandang gagal di bursa transfer karena dua faktor:

 

Pertama dengan gaya dingin berhasil membatalkan transfer akal-akalan antara manajemen Inter era Morrati yang belum sreg dengan Erick, dengan tim manajemen musuh bebuyutan Inter, tim asal kota Turin, Juventus.

 

Pertukaran striker tua Vucinic dari Juventus, dengan bintang segar Inter Freddy Guarin berhasil digagalkannya.

 

Erick beralasan transfer itu, walau hanya tinggal saling tukar dokumen, merupakan bisnis yang buruk. Tidak ada untungnya untuk Inter Milan. Para fans lega, namun sekaligus was was, ini artinya manajemen Inter di bawah Erick sedang melakukan sabotase agar Erick tidak popular di mata fans.

 

Erick segera bertindak, direktur olah raga Marco Branca dipecat, sementara dikosongkan, dan direktur keuangan baru Michael Williamson di angkat. Perubahan manajemen itu perlu dilakukannya ditengah upaya sabotase terhadap Inter Milan. Erick menyebutnya sebagai penyegaran. Namun fans melihatnya sebagai penghakiman.

 

Faktor kedua adalah direkrutnya Hernanes. Gelandang  ternama di Italia, pembelian mahal namun dibutuhkan, menjadikan para fans mendapat suntikan moral bahwa di tangan Erik, Inter masih bisa membawa nama besar datang ke Apolo Gentile, kandang mereka.

 

 

Stadion Baru, Celengan Inter

 

Di Italia sendiri hanya dua tim yang bergairah pada transfer musim dingin, Roma dengan kekuatan finansial yang membaik, dan AC Milan yang membutuhkan suntikan tenaga. Inter Milan bagi para pengamat tidak membutuhkan pemain baru, karena belanja mereka di musim panas 2013, cukup bagus.

 

Ada Icardi yang wonderkid incaran klub besar pesaing, ada Belfoldil protege asal Parma, keduanya pemain depan. Di tengah Inter memasukan nama bagus seperti Saphire Taider yang energik

 

Di sisi non footbal, Erick merupakan Messiah baru bagi Inter Milan, karena menjanjikan mereka stadion baru. Namun, para pengamat sama-sama mafhum bahwa Erick ingin mengincar keuntungan yang bagus dari stadion baru itu.

 

Namun, Bleach Report mengutarakan, bagus sekali Erick lebih realistis dan ingin membisniskan sepak bola Italia yang penuh skandal dan membosankan. Orang Italia harus bisa melihat lebih besar dari apa yang sepak bola berikan, mereka pernah juara dunia berkali kali, tapi kompetisinya masih memiliki skandal.

 

Bahkan baru-baru ini saja, penyelidikan pengaturan skor yang melibatkan pemain timnas Domenico Criscito, dan berhasil memenjarakan kapten tim Lazio Stephano Mauri telah ditutup. Ini merupakan pertanda tidak adanya profesionalisme di Seri A. Kehadiran Erick Thohir adalah anugerah bagi sepak bola Italia. Jika Erick untung, Italia ikut beruntung.

 

Bulan November lalu, Thohir telah bertemu dengan walikota Milan, Giuliano Pisapia, dan hasilnya positif. Pisapia memuji gagasan Erick dan memujinya sebagai pribadi yang ramah, kota Milan mendukung Erick Thohir. Masa bulan madu Erick kini masih merekah Milan.***Fey