BKPM Nilai Dampak Tapering The Fed akan Positif Bagi Indonesia

BKPM Nilai Dampak Tapering The Fed akan Positif Bagi Indonesia

Kepala BKPM Mahendra Siregar menilai tak ada dampak parah akibat kebijakan tapering the Fed dan kebijakan pelonggaran kuantitatif AS (QE) pada perekonomian Indonesia. Menurutnya Indonesia malah akan mendapat manfaat dari program pengurangan stimulus AS itu.

 

"Ketika situasi kembali normal, maka Indonesia akan masuk radar kembali sebagai tujuan yang berkelanjutan untuk investasi langsung jangka panjang," jelas Mahendra dalam sebuah wawancara di Jakarta sebagaimana dikutip Jakarta Post, Rabu (29/01).

 

"Lebih banyak orang bisa segera fokus pada investasi langsung. Jadi, kemungkinan pullback dari QE sangat positif bagi FDI [investasi asing langsung]," tambahnya.

 

Pejabat tinggi dari US Federal Reserve, bank sentral Amerika, memulai pertemuan dua hari pada Selasa (Rabu, waktu Jakarta) untuk memutuskan apakah akan ada pengurangan lebih lanjut dari stimulus moneter, yang saat ini berada pada kisaran US $75 miliar per bulan dari yang diperlukan.

 

Pertemuan terakhir The Fed pada bulan Desember menyimpulkan adanya potongan $ 10 miliar untuk program QE, melalui bank sentral AS yang pada waktu itu terus menyuntikkan stimulus moneter likuiditas senilai 85 miliar dolar per bulan, yang datang dalam bentuk pembelian obligasi.

 

Banyak negara berkembang  yang selama bertahun-tahun telah menikmati aliran masuk modal asing kini menderita pukulan dari mundurnya para investor kembali ke AS. Sampai sampai beberapa pengamat menyamakan hal ini dengan krisis finansial pada 1998. Rupiah memang kena hantam, tapi saat ini base dari perekonomian Indonesia lebih kokoh dan lebih siap menerima guncangan yang sama. Artinya Indonesia telah belajar dari pengalaman.

 

Jadi, meskipun memunculkan risiko jangka pendek untuk ekonomi Indonesia, akhir QE akan baik bagi negara ini karena bisa mengakhiri ketidakpastian di pasar keuangan, yang menyebabkan nilai tukar lebih stabil di masa mendatang. Mahendra sendiri menganggap, uang keluar masuk itu bisa sebagai candu, di mana negara harus mengurangi efek candu.

 

Meskipun Indonesia telah menjadi tempat yang kurang nyaman bagi kalangan investor portofolio, karena nilai tukar tidak stabil dan pasar keuangan yang dangkal, negeri ini masih dipandang sebagai darling kalangan investor di sektor riil dan usaha bisnis jangka panjang, berkat kelas menengah yang tumbuh dan pertumbuhan ekonomi yang stabil.

 

"Tahun 2014 adalah tahun pemilu, dan jelas ada ketidakpastian rupiah. Namun, mereka yang berpikir jangka panjang paham ada banyak potensi ajeg dalam ekonomi (Indonesia)," ungkap analis dari DBS Bank di Singapura dalam sebuah catatan penelitian yang dirilis pada hari Selasa (28/01). Terlebih ada rencana pemerintah untuk memberikan insentif pajak kepada perusahaan-perusahaan asing yang investasi di Indonesia.***Fey