Editorial Bloomberg: Mengapa Indonesia Bisa Ketinggalan Target Pertumbuhan 2015

Editorial Bloomberg: Mengapa Indonesia Bisa Ketinggalan Target Pertumbuhan 2015
worldproperty

Presiden Indonesia Joko Widodo mengatakan Indonesia, negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dapat mencapai target pertumbuhan resmi 5,7 persen tahun ini. Hal ini lbisa jadi lebih sulit dari apa yang diantisipasi.

Joko Widodoyang menjabat mulai Oktober 2014, mewarisi negara dengan ekonomi yang terbelenggu oleh investasi yang minim di bidang infrastruktur, jatuhnya harga komoditas, dan penarikan stimulus moneter AS. Bank sentral telah mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk melindungi rupiah yang rentan dan produk domestik bruto yang mungkin tumbuh 4,9 persen dari kuartal terakhir di tahun sebelumnya, laju paling lambat sejak tahun 2009, menurut survei Bloomberg.

Jokowimenjanjikan untuk memperbaiki infrastruktur dimulai dengan jalan, pelabuhan, dan listrik yang merupakan proyek-proyek besar. Dia berusaha untuk merayu investastor dan meningkatkan ekspor non-komoditas, menargetkan perluasan sebanyak 6,3 persen menjadi 6,9 persen di tahun depan.

"Kami yakin untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi dari 5,7 persen tahun ini”, Presiden mengatakan dalam sebuah wawancara pada 2 Februari 2015 di Jakarta. "Tapi kita harus meningkatkan volume ekspor kita dan kita harus mereformasi birokrasi kita. Kita harus mengundang FDI."

Namun Bank Dunia melihat Indonesia tumbuh 5,2 persen tahun ini dan 5,5 persen pada 2016. Perekonomian mungkin diperluas 5,06 persen pada tahun 2014, menurut survei Bloomberg menjelang data karena 5 Februari di Jakarta. Berikut adalah lima hal yang bisa menghambat target pertumbuhan Indonesia tahun ini.

Harga komoditas
Harga ekspor komoditas utama Indonesia mungkin tidak sembuh dalam waktu dekat. Batubara telah jatuh lebih lanjut tahun ini dan sekarang sudah lebih dari separuh harga sejak akhir 2010. Kelapa sawit mengalami penurunan terbesar sejak Januari 2010 karena permintaan melemah di tengah tingginya pasokan, setelah merosot 16 persen pada tahun lalu.

Sementara harga minyak mentah yang jatuh dapat membantu Jokowi membuat keputusan memo subsidi bensin, namun hal ini juga menyerap pendapatan pemerintah.

Negara akan kehilangan sekitar 158 triliun rupiah pendapatan karena penurunan harga minyak, menurut Nomura Holdings Inc catatan penelitian oleh ekonom termasuk Euben Paracuelles di Singapura.

Defisit
Indonesia dijuluki sebagai negara berkembang yang rapuh oleh Morgan Stanley pada tahun 2013 karena defisit eksternal yang besar membuatnya rentan terhadap arus keluar modal. Sedangkan kekurangan transaksi berjalan menyempit dari rekor 4,4 persen dari produk domestik bruto pada kuartal kedua tahun itu, Bank Indonesia memperkirakan defisit 3 persen menjadi 3,5 persen dari PDB tahun ini, dibandingkan dengan perkiraan sekitar 3 persen pada tahun 2014.

Proyek-proyek infrastruktur besar yang dijanjikan oleh Jokowi bisa memacu impor, menempatkan tekanan pada keseimbangan, menurut Ndiame Diop, ekonom utama Bank Dunia untuk Indonesia. Defisit terus-menerus ini membuat lebih sulit bagi Bank Indonesia untuk mengikuti rekan-rekan global dalam memotong biaya pinjaman untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Risiko implementasi
Perseteruan antara kepolisian Indonesia dan lembaga anti-korupsi, KPK, telah mendominasi media lokal dalam beberapa pekan terakhir. Kegagalan presiden untuk menunjukkan kepemimpinan yang kuat bisa merusak kredibilitasnya untuk mendorong ke depan dengan reformasi ekonomi dan menindak korupsi.

"Mungkin ada efek beriak," kata pihak Bank Dunia. Dia juga menunjukkan bahwa sekitar 50 persen dari anggaran pemerintah pusat sebenarnya dikelola oleh pemerintah daerah, meningkatkan kemungkinan bahwa pelaksanaan infrastruktur dan belanja sosial akan lebih lambat dari yang diharapkan karena kesulitan dalam mentransmisikan kebijakan dari atas.

Resiko Global
Ekonomi global tidak mungkin memberikan banyak dukungan kepada Indonesia tahun ini, dengan kelemahan di Jepang, Eropa, dan China, yang merupakan pasar ekspor terbesar di Indonesia. Sementara itu, pemulihan ekonomi di AS diperkirakan akan mendorong Federal Reserve akan menaikkan suku bunga, mengurangi daya tarik aset yang lebih tinggi agar unggul di pasar negara berkembang seperti Indonesia.

"Ini akan menjadi tahun yang sangat sulit secara eksternal," Mari Pangestu, mantan menteri perdagangan Indonesia, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg Television, Rabu (3/2).

Penguatan ekonomi AS dan perlambatan pertumbuhan di China adalah "kombinasi yang buruk" bagi Indonesia karena harga komoditas mungkin akan terus jatuh, kata Benedict Bingham, perwakilan residen senior Dana Moneter Internasional di Jakarta.

Selang Waktu
Perombakan ekonomi yang dijanjikan oleh Jokowi akan butuh waktu sehingga bisa bermanfaat. Proyek infrastruktur besar mungkin memerlukan waktu yang cukup panjang. "Apakah kita benar-benar bisa menggelar proyek infrastruktur cukup cepat adalah tanda tanya besar," kata Mari.

Pemerintah juga perlu meninjau kebijakan perdagangan dan ketenagakerjaan, yang terlihat lebih defensif ketimbang fokus pada memenangkan pangsa pasar global, menurut Bingham.

"2015 harus dilihat sebagai tahun yang menjadi dasar bagi strategi jangka menengah yang ditetapkan," katanya. "Ini tidak akan menjadi tahun yang menguntungkan kecuali jika strategi sudah menjadi jelas." ***intan (Sumber: Bloomberg)