Internet Cepat Buat Apa? Frustasinya Netizen Indonesia Menunggu Bulan Oktober Tiba

Internet Cepat Buat Apa? Frustasinya Netizen Indonesia Menunggu Bulan Oktober Tiba
jaringan bagai kura kura, staticworld

Tidak dipungkiri lagi bahwa internet adalah media andalan setiap rata-rata orang di Indonesia, saat ini untuk menghabiskan waktu sepanjang hari lebih lama.

Lebih khususnya di kalangan penduduk yang sebagian besar pemuda.

Maka dari itu bukan hal luar biasa apabila mereka menuntut akses yang lebih cepat, lebih baik, yang mendasari beberapa tantangan yang dihadapi pemerintahan berikutnya.

Bahkan ada kelakar di sosial media, bahwa Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) dipanjar saja tidak usah menunggu bulan Oktober saat pergantian pemerintahan baru.

Ini karena ungkapan kontroversial sang Menteri Komunikasi dan Informasi, Tifatul Sembiring yang mempertanyakan untuk apa internet cepat? Dalam tweepsnya sebagaimana dikutip Kompas (30/01)


"Tweeps Budiman, memangnya kalau internetnya cepat mau dipakai buat apa?...:D *MauTauBanget*"

Well, dalam studi baru-baru ini pada anak muda usia 18 sampai 30 tahun oleh Ooredoo, perusahaan induk berbasis di Qatar penyedia layanan telekomunikasi Indosat, dalam memandang sikap digital dan aspirasi kaum muda Indonesia, sebuah kelompok yang terdiri dari setengah jumlah penduduk yang jumlahnya 250 juta orang.

Ditunjukkan bahwa pemuda menginginkan akses jangkauan Internet yang lebih besar dan lebih maju, dengan 91% mengatakan mereka "mati kaku" di depan internet karena merasa membuang banyak waktu sebagai akibat kecepatan konektivitas yang lemah.



Di daerah pedesaan, di mana sepertiga dari 1.400 responden hidup, 60% mengaku jaringan internet lemah sinyal dan 82% di antaranya mengatakan mereka frustrasi oleh kecepatan koneksi yang lambat.

Kecepatan koneksi rata-rata di Indonesia sebesar 2,4 megabit per detik termasuk yang paling rendah di Asia Tenggara, mengacu pada laporan "Negara Internet" baru-baru ini dari penyedia layanan cloud Akamai.

Kecepatan koneksi mobile pada kuartal keempat tahun ini bahkan lebih rendah, di 2.0Mbps. Kecepatan terendah tercatat di India (1.3Mbps) sedangkan tertinggi di Jepang (5.7Mbps).

Sementara kaum muda di daerah tentunya berharap partisipasi aktif dalam pembangunan melalui partisipasi yang tidak berjarak dengan internet.
 
Seperti kebanyakan negara, hambatan utama adalah infrastruktur dasar.

Sangat disayangkan apabila pasar smartphone begitu luas, dan menjadi cara banyak orang di Indonesia mengakses internet, namun penetrasi jaringannya begitu lemah. Di daerah pedesaan, penggunaan smartphone semakin lazim, namun mereka ibarat tentara yang diberikan senjata canggih tanpa amunisi.

Orang orang di pedesaan mengatakan mereka berharap bisa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pekerjaan secara online.



"Tantangan yang di hadapi adalah membantu anak muda Indonesia melakukan transisi ke menggunakan internet sebagai 'monetisasi berkendara' untuk mendapatkan penghasilan, transaksi perdagangan atau membangun bisnis," jelas Ooredoo Grup dalam pernyataan email.

Lebih dari 90% mengatakan internet telah mendorong mereka menjadi mandiri masuk ke wilayah kewirausahaan, dan 83% sudah punya niat ke arah sana, untuk, bahkan sudah terbiasa melakukan bisnis online.

Berkaca pada kesukesan KawalPemilu.org,  mata semua orang terbuka bahwa anak muda sanggup menjadikan internet menjadi ajang untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan demokrasi.

Mereka berharap
Presiden terpilih Joko Widodo telah menunjukkan dukungannya karena janji pada debat kampanye yang terkenal dengan catchphrases "Dua minggu rampung" yang artinya pemerintahannya lebih menghargai aktivitas informasi teknologi sebagaimana saat ini yang dia jalankan sebagai Gubernur DKI Jakarta dengan e-governmentnya.

 "Panggil saja programmer, tidak ada dua minggu bisa dirampungkan." jelas Jokowi saat momentum Debat (15/06).

Istilah "Dua minggu rampung" sudah jelas mengunci mati ungkapan, "Internet cepat buat apa?" dengan amat sangat telak.***Fey (sumber kutipan WSJ)