Kenaikan Harga BBM Dapat Memicu Pertumbuhan Fiskal

Kenaikan Harga BBM Dapat Memicu Pertumbuhan Fiskal

Fiskal.co.id, Jakarta - Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Solikin M Juhro mengharapkan agar pemerintah dapat segara mengambil keputusan untuk kembali menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.


Meskipun tidak mudah, ia menghimbau agar pemerintah bisa lebih berani mengambil resiko. Dengan adanya kenaikan harga BBM diharapkan ruang gerak fiskal pun bisa sedikit lebih lega.


Saat ini subsidi yang diberikan pemerintah untuk sektor energi khususnya bahan bakar minyak dinilai masih begitu tinggi, yakni 20 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2014.


"Subsidi itu kan cukup besar (penggunaan anggarannya), sampai 20 persen," ujar Juhro yang dijumpai di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (7/3/2014).


Juhro juga memaparkan optimismenya bahwa perangkat badan keuangan nasional sebenarnya punya kemampuan untuk menangani permasalahan tersebut.


Sebagai bukti, Ia menyatakan baik otoritas fiskal dan moneter terbukti mampu meredam gejolak paska kenaikan BBM tahun lalu.


"Kalau 2005 dan 2009, itu dampak inflasi karena kenaikan BBM memang besar. Tapi 2013 kemarin berkat koordinasi yang baik dan upaya antisipasi, itu bisa menekan dampak lanjutan inflasi yang awalnya diprediksi di atas 9 persen menjadi 8,36 persen," jelasnya.


Dengan adanya koordinasi yang baik antar semua pihak, gejolak yang mungkin terjadi sebenarnya bukan lagi alasan untuk tidak menaikan harga BBM. "Jadi koordinasi menjadikan dampak kenaikan harga BBM itu bisa ditekan," imbuhnya.***[mjd]