Tim Ekonomi Kabinet Disambut Pasar dengan Muka Datar

Tim Ekonomi Kabinet Disambut Pasar dengan Muka Datar
rmol.co

Pelaku pasar tampak tidak terlalu girang dengan susunan tim ekonomi Kabinet Kerja bentukan Presiden Joko Widodo - Wapres Jusuf Kalla.  Selain tak sesuai harapan, latar belakang penunjukan menteri dengan kepentingan politik menjadi salah satu faktor penyebab dinginnya reaksi pasar.

 

"Kurang baik (reaksi pasar) ya, karena politik akomodatif. Kalau pasar 'kan tentunya menginginkan di level ekonominya yang memiliki kemampuan moneter dan fiskal sekaligus," ujar analis pasar Yanuar Rizky, Senin (27/10).

 

Walaupun kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat relatif stabil, tetapi pada Senin (27/10) sore, Indeks harga saham gabungan, IHSG ditutup pada 5,073 poin 68, turun 0,6 persen dibandingkan pembukaan pada Senin pagi.

 

Menurutnya, harapan pasar belum terlihat dari tim ekonomi kabinet kerja, termasuk sosok Sofyan Djalil yang ditunjuk sebagai Menteri koordinator perekonomian. Yanuar menduga, Sofyan dipilih sebagai Menko Perekonomian lebih karena "kedekatannya dengan Jusuf Kalla".

 

Sementara itu, Rini Soemarno menjadi Menteri BUMN, yang sepertinya dilatari karena ia memiliki faktor kedekatan dengan Megawati Soekarnoputri dan PDI-P.

 

Penunjukan politisi Partai Hanura, M. Saleh Husin sebagai Menteri Perindustrian pun disebut sebagai gerakan yang "sangat politis".

 

Sementara itu, Menko Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, sikap pasar yang kurang bereaksi positif terhadap Kabinet Kerja akan bersifat sementara.

 

"Itu kan reaksi satu hari. Sesaat bisa saja kan," kata Sofyan Djalil usai mengikuti sidang kabinet pertama Senin (27/10).

 

Namun demikian, ada kesempatan untuk membuktikan kemampuan kerja dalam 100 hari pertama.

 

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Ahmad Erani Yustika (26/10) menyatakan, sejumlah menteri dinilai cukup. Namun beberapa menteri kurang cakap. Secara umum, ia menilai tim ekonomi di luar ekspektasi.

 

”Saya pribadi menilai, tim ekonomi ini lebih rendah dari ekspektasi. Semestinya Jokowi (Joko Widodo) bisa mengambil profil yang lebih bagus,” kata Erani.

 

Erani menyoroti Andrinof Chaniago yang ditunjuk sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Portofolio Adrinof di bidang kebijakan publik memang tak lazim untuk posisi Kepala Bappenas yang selama ini diisi orang berlatar-belakang ekonomi.

 

”Tapi ini justru jadi kelebihan dia. Membangun tidak dari kacamata ekonomi saja, tetapi pada perspektif yang lebih luas. Ini berita bagus. Cuma nanti dia harus banyak berurusan dengan aspek ekonomi karena perencanaan pembangunan didominasi isu ekonomi,” kata Erani.

 

Akan halnya dengan Menkeu Bambang Brodjonegoro yang dinilai tidak akan banyak melakukan terobosan fiskal di APBN mengingat Bambang adalah bagian dari rezim lama yang selama ini merancang APBN. 

 

Sementara itu, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, A. Tony Prasetiantono, berpendapat bahwa Kabinet Kerja agak susah diterima pasar sehingga untuk mengungkit euforia pasar secara signifikan pun sulit terjadi.

 

Tony mengakui tak mudah bagi Presiden meracik kabinet di tengah antusiasme yang begitu banyak dari pihak-pihak yang memberi masukan. ***intan (Sumber: BBC & Kompas)